> >Seorang mahasiswa bermobil berniat akan sembahyang Jum'at di dekat
> >rumahnya. Karena jarak yang cukup dekat, maka dari rumah ke masjid cukup
> >hanya berjalan kaki saja. Pakaianpun seadanya yang memenuhi syarat untuk
> >bersembahyang. Bahkan dompetpun ditinggal di rumah.Tak lupa sebelum
> >berangkat, terselip di kantongnya uang sejumlah seribu rupiah diniatkan
> >untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan masjid.
> >
> >Saat sampai di masjid, ternyata jamaah sudah penuh sampai luber keluar,
> >sehingga si mahasiswa tadi tidak dapat tempat. Maka diapun mendengarkan
> >khotbah sambil berdiri di halaman, dan tentunya kotak sumbangan tidak
lewat
> >didepannya. Akibatnya uang seribu dikantong tetap utuh sampai sholat
Jum'at
> >selesai.
> >
> >Kalau memang sudah niat, seharusnya bisa saja kotak sumbangan itu dicari
> >dan uang dimasukkan. Tapi kenyataannya, rasa sayang terhadap uang
sejumlah
> >itu masih mengganggu. Lumayan untuk sepiring nasi padang dengan lauk ayam
> >goreng untuk makan siang untuk ukuran pada masa itu. Sehingga uang seribu
> >rupiah tersebut tidak jadi masuk kotak sumbangan, tapi dibawa pulang
> >kembali.
> >
> >Jam sudah menunjukan saat makan siang setelah selesai sholat Jum'at. Maka
> >setelah itu, ia bersama pembantunya pergi keluar mancari makan siang
dengan
> >mobilnya. Belum sampai tempat tujuan, terdengar suara dentuman keras di
> >roda sebelah kiri depan. Mobilpun ditepikan dan kebetulan berhenti di
> >antara andong-andong yang sedang parkir mencari muatan. Setelah di cek,
> >ternyata baut roda yang berjumlah empat buah hanya tinggal tersisa dua
> >buah, dan itupun sudah mau lepas. Pantas saja roda jadi oleng dan
> >menimbulkan bunyi keras. Segudang "untung"pun keluar dari mulut
orang-orang
> >yang menonton. Untung tidak lepas, untung sedang jalan lambat, untung di
> >dalam kota dll. Setelah tahu penyebabnya, gampang! Kencangkan lagi baut
dan
> >nanti setelah makan, pergi ke toko spare part mobil dan beli baut baru.
> >Tidak masalah.
> >
> >Tapi saat mengencangkan kedua baut tersebut, salah seorang kusir andong
> >yang sudah tua, ikut menonton dan dengan bahasa Jawanya yang halus dia
> >menawarkan satu buah baut yang katanya milik dia dan dia meminta uang
> >seribu rupiah untuk menebusnya. Seribu rupiah??? Pikiranpun teringat
seribu
> >rupiah yang tidak jadi masuk kotak sumbangan masjid. Kok pak kusir tua
> >menawarkan seribu rupiah? Kenapa tidak seribu lima ratus atau dua ribu
> >sekalian? "Ah, itu hanya 'kebetulan' saja" pikir mahasiswa itu. "Baiklah,
> >coba lihat baut yang bapak punya" kata si mahasiswa (Dalam bahasa Jawa
> >halus juga). Setelah pak kusir memperlihatkan bautnya, ternyata itu
adalah
> >baut mobil mahasiswa itu yang rupanya lepas dan menggelinding ke kolong
> >andong pak kusir tua itu, lalu dia ambil dan mengaku sebagai pemiliknya.
> >"Bisa saja pak tua ini" pikir si mahasiswa dalam hatinya. Karena merasa
> >iba, maka tanpa banyak bicara atau menawar, bautpun dibayar. Senang
sekali
> >pak tua kusir andong menerima seribu rupiah.
> >
> >Baru tiga baut yang terpasang dari empat baut yang seharusnya. "Tak
apalah,
> >nanti baut yang keempat beli di toko" pikir si mahasiswa. Maka, pergilah
> >mereka makan siang sambil si mahasiswa pemilik mobil tetap bertanya di
> >dalam hati. "Kenapa seribu rupiah???"
> >
> >Terpikir oleh si mahasiswa pada saat itu; "Apakah ini sebuah pesan atau
> >peringatan dari Allah SWT bahwa sesuatu yang sudah niat untuk
diikhlaskan,
> >dalam hal ini uang seribu rupiah untuk sumbangan ke masjid, tidak
> >sepantasnyalah untuk ditahan-tahan dengan alasan sayang uang/benda, atau
> >takut rugi atau untuk keperluan yang lain". Jadi maksudnya peringatan dan
> >menguji keikhlasan. Bila masih ditahan, itu artinya masih belum ikhlas
> >sepenuhnya.
> >
> >Apakah yang dipikirkan itu benar? Atau hanya dia saja yang terlalu
> >berperasaan? Sengaja mobilpun dilewatkan kembali di jalan yang sama
setelah
> >kembali dari makan siang dan diapun berdoa memohon kepada Tuhan. Dalam
> >permohonannya; "Ya Allah, bila memang kejadian itu adalah sebuah pesan
dan
> >memang ditujukan untuknya dan apabila yang terpikir itu benar adanya,
maka
> >tunjukanlah kebenaran itu" Tahukah anda apa yang terjadi sesaat setelah
doa
> >itu selesai terucap??? Baut yang satunya langsung terlihat tergeletak
> >ditengah jalan aspal, tak jauh dari andongnya pak tua yang tadi, dan tak
> >ada seorangpun yang menggubris, walaupun orang ramai lalu lalang dan
sudah
> >ditinggal beberapa jam selama makan siang. Bisa dibayangkan sebuah baut
> >roda kecil, terlihat dengan jelas dari dalam mobil tergeletak di tengah
> >jalan utama dalam keadaan mobil berjalan pula!! Hatipun terasa bergetar,
> >keringat mengucur keluar, air mata serasa ingin keluar, merinding, tak
tahu
> >harus bilang bagaimana.
> >
> >Lengkaplah sudah baut ban mobil mahasiswa itu seperti sedia kala. Tanpa
> >harus membeli di toko, tapi harus "membeli" seribu rupiah dari pak tua
> >kusir andong. Dimana seribu rupiah itu memang sudah diniatkan dari awal
> >akan dikeluarkan untuk sumbangan, tapi tidak jadi, tapi Allah Maha Tahu,
> >dan memberi peringatan pada hambanya, seolah-olah berkata; "Keluarkan
> >seribu rupiah itu, karena itu sudah bukan menjadi hakmu lagi!" Maka
jadilah
> >seribu rupiah di"tarik" dengan "paksa" melalui kejadian ban yang hampir
> >lepas. Ditambah dengan "pesan" yang diterima bahwa Allah Maha Melihat,
> >Allah Maha Mendengar dan Allah berada dekat, dekat, bahkan sangat dekat
> >dengan mahluknya. Perbuatan, atau bahkan niat sekecil apapun akan
diketahui
> >olehNYA.
> >
> >Maka, berhati-hatilah bila punya niat dalam hati, berhati-hatilah bila
> >berucap dan berhati-hatilah bila bertindak. Semuanya itu tidak lepas dari
> >pengawasan Allah SWT Pencipta Langit dan Bumi.
> >
> >Maha Suci Engkau ya Allah, dan tidak ada satupun yang menyerupainya......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar