Rabu, 04 Agustus 2010

amanah

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya yang bernama Riyadhushshalihin menyebutkan satu bab yang berjudul " babul amri bi adail amanah" (bab perintah menunaikan amanah).

Amanah dalam bahasa arab memberikan beberapa makna; sebagian di antaranya adalah amanah yang diberikan Allah kepada semua hamba-Nya berupa ibadah yang dibebankan kepada mereka semua.

Ada juga amanah harta, yaitu titipan yang diberikan kepada seseorang untuk disampaikan kepada pemiliknya, atau untuk kemashlahatan yang memegang uang tersebut, atau untuk kemashlahatan keduanya.

Yang pertama biasanya dinamakan wadi'ah. Adapun untuk keperluan sang pemegang uang atau barang, ini biasanya dinamakan 'ariyah (pinjaman). Adapun barang yang memberikan mashalah untuk keduanya, itulah yang dinamakan 'ainul musta'jar (barang yang disewakan), karena pemilik dan pengguna barang, sama-sama mendapatkan faedah dari barang tersebut. Ini juga termasuk amanah.

Juga termasuk amanah, dan inilah amanah yang paling berat tangung jawabnya, yaitu amanah kekuasaan yang umum maupun yang khusus. Seperti seorang raja, presiden dan para pembantunya. Mereka diberi amanah yang sangat besar, yaitu amanah semua umat. Amanah terhadap semua kepentingan umat, baik mashlahah agama maupun dunia, diberikan amanah terhadap semua harta milik negara, ia tidak dibenarkan menggunakannya di luar keperluan orang banyak. Inilah yang sangat jarang kita temukan pada masa sekarang, dari tingkat yang tertinggi hingga yang terendah.

Intinya adalah bahwa amanah adalah satu bab yang sangat luas yang bersumber dari dua hal:

1. Amanah yang berhubungan dengan hak-hak Allah SWT. Yaitu amanah yang diberikan Allah SWT kepada semua hamba untuk beribadah kepada Allah SWT.

2. Amanah yang berhubungan dengan hak-hak manusia. Dan sebagiannya telah disinggung di depan. Semua itu diperintahkan oleh Allah SWT untuk ditunaikan.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,...... (QS. 4:58)

Dan termasuk perintah untuk menunaikan amanah adalah perintah memelihara amanah tersebut, bagaimana mungkin kita dapat menunaikan amanah tersebut kalau kita tidak memeliharanya.
Termasuk bagian dari amanah adalah sesuatu yang dibicarakan antara seseorang dengan temannya dalam hal-hal yang sangat pribadi, tidak boleh bagi temannya untuk memberi tahu orang lain, karena ini adalah bagian dari amanah.
Termasuk bagian dari amanah adalah apa yang dilakukan seseorang dengan istrinya. Sesungguhnya sejahat-jahat manusia di sisi Allah SWT adalah seseorang yang bergaul dengan istrinya kemudian ia menceritakan apa yang terjadi antaranya dan istrinya kepada orang lain, seperti yang disebutkan dalam hadits yang shahih.

"Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sejahat-jahat manusia di sisi Allah SWT pada hari qiamat adalah seseorang yang berkumpul dengan istrinya kemudian ia membuka rahasia istrinya tersebut (kepada orang lain) ". (HR:Muslim 1437 )

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)

Allah SWT mengemukakan amanah, maksudnya Allah SWT memberikan tugas dan kewajiban kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi mereka tidak menyanggupi tugas tersebut karena memang terlalu berat dan juga karena kekhawatiran ketiganya kalau tidak bisa menunaikannya. Mungkin timbul satu pertanyaan: bagaimana Allah SWT menawarkan amanah kepada ketiganya? Padahal ketiganya adalah benda mati yang tidak memiliki akal dan perasaan. Jawabannya adalah bahwa semua benda mati di sisi Allah adalah benda hidup yang memiliki akal dan perasaan. Ingat sebuah hadits yang berbunyi:

"Sesungguhnya ketika Allah SWT menciptakan qalam (pena) Dia SWT berfirman kepadanya: Tulislah!" perhatikanlah hadits ini. Allah SWT berfirman kepadanya sedangkan ia adalah benda mati. Kemudia qalam menjawab dengan pertanyaan: Apa yang akan saya tulis?
Karena perintah yang diberikan Allah SWT adalah perintah yang mujmal (umum). Lalu Allah SWT memerintahkan dengan firman-Nya:
"Tulislah semua yang akan terjadi sampai hari kiamat." (HR: Tirmzi no.2155, Abu Daud 4700 dan Ahmad dalam musnad 5/317) dishahihkan oleh Syaikh Albani.

Hadits ini juga merupakan penolak terhadap keberadaan hadits yang menerangkan bahwa awal makhluk adalah nur muhammad. Maka qalam itupun menulis apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.

Amanah itu akhirnya dipikul oleh manusia, bagaimana memikulnya? Manusia memikulnya dengan dua perkara: akal dan rasul. Akal adalah keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia, bukan kepada makhluk lainnya. Sedangkan Rasul yang diutus Allah kepada umat manusia untuk menjelaskan perbedaan antara yang hak yang batil. Sehingga tidak ada lagi uzur bagi manusia. Tetapi Allah SWT menutup ayat ini dengan menjelaskan sifat manusia bahwa mereka adalah dhalum dan jahul. Apa maksudnya? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, apakah insan di sini umum atau khusus bagi orang kafir?. Ada yang mengatakan bahwa insan di sini khusus untuk orang kafir, merekalah yang bersifar dzalum dan jahul. Sedangkan orang yang beriman mereka adalah yang memiliki ilmu, hikmah, adil. Ada juga yang berpendapat bahwa lafadz insan dalam ayat ini adalah lafadz umum sesuai dengan tabiatnya sedangkan orang yang beriman, mereka diberi hidayah oleh Allah SWT dengan mendapat petunjuk dari-Nya dan mereka adalah pengecualian dari dua sifat di atas. Terlepas dari pendapat di atas, maka barangsiapa yang tidak menunaikan amanah, merekalah yang bersifat dengan dua sifat di atas dan siapa yang menunaikannya merekalah yang terhindar dari dua sifat tersebut. Wallahu A'lam.

Rasulullah SAW bersabda:

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda: "tanda munafik ada tiga: bila berbicara ia berbohong, bila berjanji ia menyalahi dan bila diberi amanah ia berkhianat". Dalam satu riwayat: "sekalipun ia shalat dan puasa dan mengira dirinya adalah seorang muslim" (HR:Bukhari 33, Muslim 59)

Munafik adalah orang yang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Dan yang dijelaskan dalam hadits di atas adalah nifak amali (perbuatan) bukan i'tiqadi, namun nifak amali bisa membawa kepada nifak I'tiqadi (keyakinan). Yang menjadi inti dari pembicaraan kita di sini adalah yang ketiga yaitu orang yang jika diberi amanah, ia berkhianat. Jika dititipi uang ia berkhianat, jika ada rahasia antara anda dan dia, ia berkhianat. Apabila ia diberi amanah dalam bentuk jabatan ia berkhianat, hal tersebut adalah dengan tidak menggunakan jabatan sebagaimana mestinya.
Rasulullah SAW menceritakan dengan hadits tersebut karena dua hal:

Pertama: hendaklah kita berhati-hati terhadap ketiga sifat di atas, karena merupakan tanda-tanda kemunafikan. Dikhawatirkan nifaq amali ini bisa membawa kepada nifaq I'tiqadi yang mengeluarkan seseorang dari Islam, sedangkan ia tidak tahu.

Kedua: agar kita berhati-hati kalau berhadapan dengan orang yang memiliki sifat demikian, supaya kita jangan sampai terperdaya dengan sifat bohong, ingkar janji dan khianat yang ada pada orang tersebut.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Huzaifah Ibnul Yaman ra. ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat bahwa amanah telah diturunkan dan ditanamkan dalam hati setiap orang. (ini sudah merupakan fithrah bagi manusia bagi setiap manusia) Kemudian turunlah al-Qur'an, maka setiap muslim tahu tentang amanah dari al-Qur'an maupun dari sunnah. (maka hal itu memperkuat kedudukan amanah bagi setiap orang).
Kemudian Rasulullah SAW menceritakan tentang diangkatnya amanah: seseorang ketika sedang tidur, maka diangkatlah amanah dari hatinya sehingga tinggal sedikit yang tersisa dari hatinya. Kemudian ia tidur lagi, maka diangkat lagi dari hatinya sehingga yang tertinggal di hatinya hanya seperti al-majal (bekas di tangan ketika selesai kerja). Sehingga sangat jarang kita dapatkan orang yang menunaikan amanah dengan sebenar-benarnya. Sehingga dikata orang: di kampung fulan ada orang yang bersifat amanah. Ini karena sangat sedikitnya orang yang menunaikan amanah dalam arti yang sesungguhnya. (Muttafaqun 'Alaih) Wallahu A'lam.

Maksudnya, amanah adalah satu sifat yang merupakan fithrah yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia, sebelum turunnya Al-Qur'an dan adanya hadits Rasulullah SAW. Lalu datanglah al-Qur'an dan sunnah yang memperkuat fithrah ini, sehingga memperkuat keimanan umat Islam dan keteguhan dalam menjalankan amanah.

Namun pada akhir zaman, amanah akan di ambil dan diangkat dari umat manusia. Sehingga pada akhir zaman, seperti pada masa kita sekarang ini, jarang kita temukan orang-orang yang benar-benar berpegang teguh dengan amanah, yang selalu menjalankan amanah sebagaimana mestinya. Semoga kita termasuk orang yang selalu bisa menjaga amanah, dengan menunaikannya sebagaimana mestinya. Wallahu A'lam bishawab.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Tidak ada komentar: