Sabtu, 07 Agustus 2010

mata sehat dan afiat

> > > eramuslim - Seorang pakar dalam sebuah seminar, menyebutkan bahwa mata
> > adalah jendela jiwa kepada dunia. Mata menghantarkan pemiliknya untuk
> > menikmati sekian juta pemandangan semesta raya. Matalah yang menyantap
> > kuning mentari yang begitu syahdu mengelupasi membran kepekatan sisa
> malam.
> > Jutaan manik-manik bintang sungguh sempurna di layar biru raksasa,
> > mengenyangkan mata pada malam hari. Dengan mata, seorang suami mampu
> > memilihkan warna baju baru untuk menggembirakan istri tercinta. Untuk
> > menerka apakah hari akan hujan, seseorang mengarahkan mata ke atas, warna
> > langit kelabu atau biru cemerlang.
> > >
> > > Memiliki mata sehat memang menyenangkan. Mata yang berfungsi secara
> > sempurna, melihat dengan baik dan juga bisa melotot. Seorang teman dekat
> > sempat iri karena saya tidak berkaca mata, meskipun selalu berada di depan
> > layar komputer. Dia harus mengganti kaca mata ketika minusnya bertambah,
> > belum lagi anjuran mamanya agar dia selalu menuntaskan dahaganya dengan
> > juice wortel tak peduli harus pencet hidung plus ekspresi menyedihkan
> ketika
> > meminumnya. Obat suplemen untuk kesehatan mata pun tak lupa dikonsumsinya.
> > Demi sepasang mata yang sehat.
> > >
> > > Tetapi, apakah mata sehat saja sudah cukup?
> > > Dalam sebuah buku tafsir, ternyata sehat saja masih jauh dari cukup.
> > Selain sehat, mata juga harus afiat. Betapa sering kita mendengar kata
> yang
> > satu ini bukan? Ya kata yang kita sertakan setelah sehat ketika seseorang
> > menanyakan kabar kita.
> > >
> > > Dalam kamus bahasa Arab, kata afiat diartikan sebagai perlindungan Allah
> > untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Afiat juga dapat
> > diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan
> > penciptaannya.
> > >
> > > Jadi mata yang sehat adalah ketika mata dengan baik dapat melihat maupun
> > membaca. Sedangkan mata yang afiat adalah mata yang dapat melihat dan
> > membaca segala sesuatu yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari
> > segala sesuatu yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari
> > penciptaan mata.
> > >
> > > Pernah suatu waktu, saya berada dalam ruangan mungil bersekat triplek
> > putih, di sebuah warung internet. Sedang asik-asiknya browsing,
tiba-tiba
> > saja suara-suara aneh terdengar persis dari bilik sebelah, laki-laki dan
> > perempuan. Tadinya saya tidak ambil pusing, tapi lama kelamaan
suara-suara
> > itu jadi tambah menyeramkan, belum lagi "jedak-jeduk" ke dinding triplek
> > tempat saya bersandar. Apakah gerangan yang mereka lakukan?
> > >
> > > Saya tidak mau memikirkannya lebih jauh. Tapi saya jadi bersu'udzan
> bahwa
> > mereka sedang mengakses situs yang membuat dengkul keropos. Daripada tidak
> > nyaman terus-terusan, akhirnya saya gedor juga dinding penyekat cukup
> keras,
> > ah tawakkal saja kalo mereka terusik dan mendatangi saya. Tetapi setelah
> > menunggu agak lama, kekhawatiran itu tidak terjadi. Ffuihh ... Legaaa
....
> > Saya yakin mata mereka sehat, saya melihat keduanya tidak buta dan tidak
> > berkacamata, namun sayang mata mereka tidak afiat.
> > >
> > > Dilain kesempatan, "Mbak pinjam, speaker komputernya dong" pinta adik
> > manis penghuni kamar bawah suatu waktu. Speaker sudah digenggamnya,
> > sumringah dia menuruni tangga. "Mbak nggak curiga buat apa?" tanya seorang
> > dibawah. Saya menajamkan pendengaran. Suara pintu kamar ditutup,terdengar.
> > Kos-an sepi. Tak lama waktu pun berselang.
> > >
> > > "Terima kasih ya mbak," adik itu lagi. Kali ini wajahnya aneh, sedikit
> > shock sepertinya. "Lho udah dek? kalo boleh tau, buat apa sih?" tanya saya
> > hati-hati. "Ng... nng... nonton mbak, tapi speakernya nggak jadi
dipake,"
> > terbata dia menjawab. "Film bisu dong, emang enak nontonnya?" Dia
> tersenyum
> > kecut, dan merebahkan diri di tempat tidur. Nafas beratnya keluar paksa
> satu
> > persatu. Saya yang lagi membaca, menoleh. "Mbak, saya sudah berdosa"
> > lirihnya, matanya dipejamkan kuat-kuat. "Mbak jangan bilang yang lain yah,
> > please, sumpah yah mbak" tambahnya memelas. Dia diam lagi. "Barusan kami
> > nonton VCD Itenas, saya nggak tau sebelumnya, mbak-mbak itu cuma bilang mau
> > nonton, gitu aja, kalo saya tau saya bisa cari alasan komputernya rusak,"
> > paparnya. Sebentar kemudian air matanya keluar. Saya beristighfar
> > keras-keras.
> > >
> > > Kesempatan selanjutnya saya menatap pemilik mata-mata itu. Sehat, tapi
> > sekali lagi sayang tidak afiat.
> > >
> > > Khusus untuk anda-anda yang mempunyai banyak kesempatan mengakses
> > internet, tentunya harus hati-hati agar mata tidak saja selalu sehat tapi
> > juga afiat. Terlalu banyak halaman-halaman "menyeramkan" yang dengan gampang
> > bisa dikunjungi. Apalagi situs-situs super laknat bertebaran dimana-mana.
> > Tinggal mengetikkan sebuah alamat kita dengan kilat pergi kesana, tak
> peduli
> > rentang jarak. Bahkan ketika seseorang tidak faham alamatnya, sebuah
> > fasilitas search engine menjadikan 'misi' tadi menjadi begitu mudah. Pernah
> > dalam sweeping jaringan komputer sebuah perusahaan yang terhubung ke
> > fasilitas internet, banyak bapak-bapak yang keberatan komputernya
> > dibersihkan tetapi akhirnya menyerah juga dengan tersenyum malu-malu,
> > gambar-gambar porno yang disimpannya, itulah alasannya.
> > >
> > > Membuat mata sehat relatif lebih mudah dibanding menjadikan mata yang
> > afiat. Padahal ketika mata tidak afiat dalam arti ketika mata tidak
> > difungsikan sesuai dengan harapan pencipta-Nya maka bisa-bisa menjadikan
> > pemiliknya hina dan merugi, sesuai firman Allah tentang sifat para
> penghuni
> > neraka "Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan
dari
> > Jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk
> > memahami (Ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak
> > dipergunakan untuk melihat tanda-tanda (kekuasaan Allah) dan mereka
> > mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat
> > Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
> > Mereka itulah orang-orang yang lalai". (Al-A'raf :179).
> > >
> > > Saudaraku, setan bin iblis beserta kaki tangannya, tak pernah lelah
> > berdiri disamping kita bahkan mengalir di setiap pori-pori. Ketika mata  kita
> > seringkali tak terarah, cepatlah beristighfar, memohon ampunan kepada Allah.
> > Jangan menganggapnya remeh, karena dari mata lah semuanya bisa bermula.
>Anas
> > ra berkata, "Kalian melakukan dosa mata seolah-olah dosa itu sehalus
helai
> > rambut. Sedangkan kami dimasa Rasulullah telah menganggapnya sebagai
dosa
> > besar, sedang dosa besar itu sungguh membinasakan".
> > >
> > > Apakah setiap kita ingin binasa? Ibnu Qayyim menuliskan, "Dosa membuat
> > berhentinya ilmu. Hati menjadi terhimpit, kehidupan sulit, badan menjadi
> > lemah dan ketaatan kepada Allah pun menurun. Bahkan barokahnya tercabut,
> > sebaliknya keburukan bermunculan, dosa-dosa yang lainpun menjelang lalu
> > menjadi manusia yang tak peduli pada masyarakat dan lingkungan.
> > Binatang-binatang mengutuknya, kehinaan menjadi bajunya, hatinya keras dan
> > doanya tertolak. Kedurhakaannya meliputi bumi dan lautan. Hilang segala
> > rasa, musnah semua kenikmatan. Jiwanya diliputi ketakutan, syaitan-syaitan
> > mudah menjerat, dan akhirnya semua miliknya binasa".
> > >
> > > Saudaraku, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, sebaik-baik
> > manusia adalah bukan yang tidak pernah salah, tetapi ketika dia salah dan
> > menyadarinya, segera dia bertaubat dengan taubat sebenar-benarnya Meskipun
> > susah sungguh.
> > >
> > > Tak terhitung manusia menjauh dari agama Allah, maksiat terhidangkan
> > dimana-mana, tayangan televisi, majalah dan tabloid porno, bahkan
internet
> > lebih canggih lagi. Walau begitu, Allah maha Kasih dan Sayang, Dia tidak
> > akan menghentikan kemilau hidayah kepada umatnya. Jemputlah hidayah itu,
> > dengan membekali diri oleh pemahaman agama dan ilmu. Sungguh, rengkuhlah
> > hidayah dengan menghadiri banyak majelis dzikir, menafkahi keluarga
dengan
> > cara yang halal, mencari teman yang berakhlak baik, menyantuni anak yatim,
> > berbakti kepada orangtua.
> > >
> > > Boleh jadi sekian waktu kita terjerembab di lembah kehinaan, berkubang
> > dosa dan kemaksiatan. Boleh jadi kitalah si pemilik mata-mata yang tidak
> > afiat itu. Tetapi, tidak usah berlama-lama untuk segera bertaubat.
> > Saudaraku, ketika niat untuk memperbaiki sudah bulat, seringkali hati
> terasa
> > gamang, gundah... adakah harapan bisa membersihkan diri sementara dosa
> > terasa membumbung? Kita ingin taubat, tetapi terasa tak mungkin.
> > >
> > > Jangan takut saudaraku, Allah berfirman dalam hadist qudsi, "Wahai anak
> > Adam jika kamu meninta kepada-Ku dan mengharap ampunan, niscaya Aku ampuni
> > semua dosa-dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, jika
> > dosa-dosamu mencapai ujung langit yang paling tinggi kemudian kamu meminta
> > ampun kepada Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak
> > Adam jika kamu datang kepada Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian
> > menemuiku dengan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu pun, nicaya Aku akan
> > menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi pula". (HR Tirmidzi).
> > >
> > > Betapa Allah maha penerima taubat. Sungguh berbahagia mempunyai mata sehat
> > wal afiat. Saya sampaikan dengan tulus, 'selamat kepada anda yangmemiliki
> > keduanya'. "Allahumma Afinii fi bashorii...".

mbok narti

Mbok Narti
> > > >
> > > > Mbok Narti
> > > > Begitu kami sekeluarga memanggilnya. Usia-nya sudah 60 tahun namun
> > > > kegagahan dan kegesitannya justru membuat sosoknya terlihat 10 tahun
> > > > lebih muda. Mbok Narti baru bekerja beberapa minggu di tempat kami.
> > > > Seorang tetangga membawanya ke rumah ibu ketika mengetahui bahwakami
> > > > membutuhkan asisten di rumah kami. Ayah yang sudah sakit dalam 8
> > > > bulan terakhir tentu menyita waktu ibu untuk mengurusnya. Alhasil
> > > > pekerjaan rumah tangga sedikit 'keteteran' karena kami bekerja
> > > > seharian di luar rumah.
> > > >
> > > > Alhamdulillah, kami dapat bernafas lega ketika mendapatkan bantuan
> > > > mbok Narti ini. Setiap ba'da shubuh dia sudah rajin bekerja dari
> > > > mencuci, memasak dan menyetrika. Mbok Narti tidak pernah mengijinkan
> > > > ibu untuk membantunya, alih-alih mbok Narti menyarankan ibu untuk
> > > > konsentrasi menyiapkan dan mengurus keperluan ayah yang sedangsakit.
> > > >
> > > > Mbok Narti hidup sebatang-kara di dunia ini, begitu informasi yang
> > > > kami dapatkan lewat tentangga. Dia tidak pernah menceritakan asal-
> > > > usul dirinya dengan jelas. Mbok Narti, sosok baru di rumah kami ini
> > > > langsung menjadi idola. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya.
> > > > Pekerjaan dia selesaikan dengan giat dan gesit. Setiap malamnyatidak
> > > > pernah dilewatkan mbok Narti dengan bersimpuh di hadapan SangKhaliq.
> > > > Selalu khusyuk dalam sujud dan do'a-nya.
> > > >
> > > > Dan suatu hari, setelah hampir tiga minggu mbok Narti bekerja di
> > > > rumah kami. Tiba-tiba kami kedatangan seorang tamu. Seorang dokter
> > > > dari Jakarta. Awalnya kami agak terkejut dengan maksud dan tujuan
> > > > dokter tersebut untuk menjemput mbok Narti. Astaghfirullah, kami
> > > > sempat bersu'udzon tentang sesuatu hal yang buruk yang pernahterjadi
> > > > kepada si mbok ketika bekerja di Jakarta dahulu. Namun, dokter yang
> > > > ternyata bekas majikan si mbok tersebut justru memohon maaf kepada
> > > > kami untuk menjemput mbok Narti karena si mbok dirindukan oleh
> > > > anaknya. Rupanya putera si dokter meminta ayahnya untuk datang ke
> > > > rumah kami menjemput mbok Narti. Ah, rupanya ada yang merindukan si
> > > > mbok di sana.
> > > >
> > > > Si dokter itupun bercerita bahwa anak bungsu-nya tidak mau makan
> > > > sejak mbok Narti pulang ke kampungnya. Persis seperti di sinetron-
> > > > sinetron memang, namun itulah fakta yang terjadi. Entah apa yang
> > > > membuat mbok Narti berhenti bekerja dari rumah si dokter tersebut
> > > > sebelumnya. Namun dari kehidupan, tindak-tanduk mbok Narti yang baru
> > > > beberapa minggu di rumah kami, mbok Narti adalah sosok yang sangat
> > > > baik dan mendekati sempurna sebagai asisten keluarga kami.
> > > >
> > > > Akhirnya kami pun harus melepas mbok Narti dengan berat hati. Walau
> > > > baru beberapa minggu bekerja di rumah kami, namun kesan yang
> > > > ditinggalkan begitu mendalam. Terus terang, kami tidak pernah
> > > > mendapatkan asisten rumah tangga seperti sosok mbok Narti ini.
> > > >
> > > > Satu minggu berlalu sejak kepergian mbok Narti dan tetanga kami yang
> > > > pernah mengantarkan si mbok datang untuk mengambil uang gaji mbok
> > > > Narti yang belum sempat kami bayarkan. Memang ketika mbok Narti
> > > > dijemput dahulu, dia berpesan agar gajinya dititipkan saja ke
> > > > tetangga kami itu.
> > > >
> > > > Satu hal yang sangat mengejutkan kami adalah ketika si tetangga
> > > > bercerita bahwa uang gajinya mbok Narti akan diberikan kepadaYayasan
> > > > yatim piatu di kampung mbok Narti. Rupanya selama ini diamenyerahkan
> > > > seluruh penghasilannya sebagai asisten kepada si tetangga untuk
> > > > diberikan kepada Yayasan tersebut setiap bulannya. Bagi si mbok,
> > > > dengan bekerja di suatu tempat, mendapat jaminan tempat berteduh,
> > > > mendapat makan, itu sudah lebih dari cukup buat dia. Sedang
> > > > penghasilannya (gajinya) dia anggap sebagai rejeki anak-anak yatim
> > > > itu.
> > > >
> > > > Subhanallaah... dalam asma Allah dan hati yang bergetar penuh haru,
> > > > ternyata baru kami sadari bahwa kami ini bukan apa-apa dibandingkan
> > > > dengan mbok Narti. Setiap saat kami hanya memikirkan diri kami
> > > > sendiri. Setiap saat kami hanya memikirkan makan apa besok, membeli
> > > > baju dan kosmetika, rencana liburan dan hal lain yang tak bukan
hanya
> > > > untuk keperluan diri kami sendiri. Di sisi lain mbok Narti
> > > > yang 'cuma' sebagai asisten rumah tangga yang mungkin gajinya tidak
> > > > seberapa untuk ukuran orang yang mampu, justru dia sumbangkan
> > > > semuanya -semuanya!- kepada orang-orang yang tidak mampu.
> > > >
> > > > Ah, lewat mbok Narti kami seakan di'sentil' Allah agar cepat-cepat
> > > > membuka mata dan hati kami yang selama ini tertutup, bahwa hidup ini
> > > > bukan hanya untuk hari ini dan esok. Bahwa hidup ini bukan hanya
> > > > untuk sekedar mencari makan dan belanja pakaian. Namun, hidup ini
> > > > justru menjadi lebih berarti ketika kita dapat membagi kebahagiaan
> > > > kita kepada orang lain.
> > > >
> > > > Mbok Narti,
> > > > Sungguh teladanmu melorotkan tulang-tulang kesombongan kami...
> > > > Sungguh kerendah-hatianmu meruntuhkan keangkuhan kami...
> > > > Sungguh kedalaman sujud-sujud malammu, menggetarkan sukma kami...
> > > > Sungguh kedermawananmu membuat kami malu di hadapan Tuhan kami,
> > > > Astaghfirullaah.
> > > > Sungguh, kami merindukanmu mbok.

minum air putih harus banyak

> MENGAPA  MINUM  AIR  PUTIH  BANYAK-BANYAK...?
>
> Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, sisa dari tulisan "Caraka" yang lewat, yaitu "Mengapa harus minum air putih banyak-banyak..?"

                >
> Well, sebenarnya jawabannya cukup "mengerikan" tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur, maka topik tersebut saya tampilkan dalam rubrik De Facto hari ini.

                >
> Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air. Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%. Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah : Otak dan Darah.

                >
> Otak memiliki komponen air sebanyak 90%, sementara darah memiliki Komponen air 95%. Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari. Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok.

                >
> Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi. Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari...?

                >
> Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya...? Dengan jalan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri. Dari otak...? Belum sampai segitunya (wihh bayangkan otak kering gimana jadinya...), melainkan dari sumber terdekat : darah.

                >
> Darah yang disedot airnya akan menjadi kental. Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer. Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah) ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah. Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.

                >
> Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan 400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah.

                >
> Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak 'kan...? Nah saat darah kental mengalir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi "encer", dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen, lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..(ya wajarlah namanya juga kurang makan...)

                >
> Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya tambah berat bila darah mengental...), maka serangan stroke bisa lebih lekas datang.

                >
> Sekarang tinggal anda pilih : melakukan "investasi" dengan minum sedikitnya 8 gelas sehari - atau "membayar bunga" lewat sakit ginjal atau stroke.

renungkanlah

RENUNGKAN LAH



Kalau mau merenungkannya.........

Lucu ya, uang Rp 20,000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal mesjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.

Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan sepakbola.

Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop.

Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat,tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman.

Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.

Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel best-seller 100 halaman pun habis dilalap dalam sekejap.

Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, tapi berebut cari shaf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar.

Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3-4 minggu sebelumnya agar bisa disiapkan di agenda kita, tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah seketika.

Lucu ya, susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip.

Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al Quran.

Lucu ya, semua orang penginnya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir,berbicara ataupun melakukan apa-apa.

Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, tapi bila ngirim yangberkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali

LUCU YA ???

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu'min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah." (QS. 33:47)

hidup kita

HIDUP BUKANLAH SUATU LOMBA

      Seorang ibu duduk disamping seorang pria dibangku dekat sebuah
taman-main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah
cerah. "Tuh.., itu putraku yang disitu," katanya, sambil menunjuk
kearah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur
turun dipelorotan.

      "Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak itu. "Yang sedang
main ayunan dibandulan pakai T-shirt biru itulah anakku," sambungnya.
Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana
kalau kita sekarang pulang?". Jack, setengah memelas, "Kalau lima
menit lagi, boleh yahhh, sebentar lagi, ayah, boleh kan?, Cuma tambah
lima menit kok, yaaa...?" Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan
main ayunan memuaskan hatinya.

      Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya
lagi. "Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?" Lagi2 Jack
memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya?" Pria
itu bersenyum dan bilang, "OK lah, iyalah..." "Wah, bapak pasti
seorang ayah yang sabar," ibu itu menanggapinya.
    
      Pria itu tersenyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua,
John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda dekat2 sini. Oleh sopir
mabuk. Aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John,
sekarang apapun ingin kuberikan demi dan asal saja saya bisa
bersamanya biarpun hanya untuk lima menit lagi. Aku bernazar tidak
akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir ia
dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun. Padahal, sebenarnya,
sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain."

        Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat
prioritas. Prioritas apa yang anda miliki saat ini? Berikanlah pada
seseorang yang kau kasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau
pastilah tidak akan menyesal selamanya.

kisah di balik solat lima waktu

Ali bin Abi Talib r.a berkata :



"Sewaktu Rasullullah S.A.W duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi

lalu berkata: Ya Muhammad, kami hendak tanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S.yang tidak

diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.'

Lalu Rasullullah S.A.W.bersabda: 'Silahkan bertanya.'

Berkata orang Yahudi:'Silahkan terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang

diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.'



Sabda Rasullullah S.A.W.:'Sembahyang Zuhur jika tergelincir matahari, maka

bertasbihlah segala sesuatu kepada TuhanNya, Sembahyang Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi, Sembahyang Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam A.S.,maka setiap

mukmin yang bersembahyang Maghrib dengan ikhlas kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya.

Sembahyang Isya' itu ialah sembahyang yang dikerjakan oleh para

Rasul-Rasul sebelumku, Sembahyang Subuh adalah sebelum terbit matahari,

ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya tiap orang kafir.'



Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka

mereka berkata: 'Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad,

katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan didapati oleh orang yang

sembahyang.



Rasullullah S.A.W bersabda:

'Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sembahyang yang pertengahan,

sembahyang Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam, orang mukimin

yang mengerjakan sembahyang pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya

wap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.'



Sabda Rasullullah S.A.W. lagi: 'Manakala sembahyang Asar, adalah saat di

mana Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi. Orang mukmin yang mengerjakan sembahyang Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.'



Setelah itu Rasullullah S.A.W. membaca ayat yang bermaksud:'Jagalah waktu-waktu sembahyang terutama sekali sembahyang yang pertengahan, sembahyang Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam A.S. diterima.



Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan sembahyang Maghrib kemudian

meminta sesuatu dari Allah maka Allah akan perkenankan.'Sabda Rasullullah

S.A.W. : 'Sembahyang Isya' (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap

dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam

malam yang gelap untuk pergi menunaikan sembahyang Isya' berjamaah, Allah

S.W.T. haramkan dari terkena nyalanya api neraka dan diberinya cahaya untuk menyeberangi titi sirath.'



Sabda Rasullullah S.A.W. seterusnya: 'Sembahyang Subuh pula, seorang mukmin yang mengerjakan sembahyang subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberi oleh Allah S.W.T. dua kebebasan yaitu:

1. Dibebaskan dari api neraka.

2. Dibebaskan dari nifaq.



Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka

mereka berkata: 'Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (S.A.W).

Kini katakan pula kepada kami semua kenapakah Allah S.W.T. mewajibkan

puasa 30 hari ke atas umatmu?'.



Sabda Rasullullah S.A.W.:

'Ketika Nabi Adam memakan buah pohon yang dilarang,lalu makanan itu

tersangkut dalam perut Nabi Adam A.S.selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T. mewajibkan ke atas keturunan Adam A.S. berlapar selama 30 hari.

Sementara izin makan diwaktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T.

kepada makhlukNya.'



Kata orang Yahudi: 'Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami ganjaran pahala yang diperolehi dari puasa itu.'



Sabda Rasullullah S.A.W.: 'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T. dia akan diberi oleh Allah S.W.T. tujuh perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yg tumbuh dari badannya(daging yang

tumbuh dengan makanan yang haram).

2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.

3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.

4. Dijauhkan dari merasa lapar dan haus.

5. Diringan baginya siksa kubur (siksa yang sangat mengerikan).

6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T. pada hari Kiamat untuk menyeberang

titian sirath.

7. Allah S.W.T. akan memberinya kemudian di syurga.'



Kata orang Yahudi: 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad.

Katakan kepada kami kelebihanmu antara semua para nabi-nabi.'

Sabda Rasullullah S.A.W.:'Seorang nabi mengunakan doa mustajabnya

untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya

(untuk saya gunakan memberi syafaat pada umat saya di hari kiamat).'



Kata orang Yahudi: 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad, kini

kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka

Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan kecuali Allah dan engkau utusan

Allah).'

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit

ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan berilah

berita gembira kepada orang2 yang sabar." (Al-Baqarah : 155)



Disebutkan didalam satu riwayat, bahawasanya apabila para makhluk

dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing

masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP.



Bertanya orang kepada Rasulullah saw : "Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?"

Maka jawabnya Rasulullah saw,"Umat dikenal kerana WAJAH mereka putih

disebabkan oleh WUDHU'."



Bila qiamat datang maka malaikat datang kekubur orang mukmin sambil

membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas

SUJUD tidak dihilangkan. Maka memanggillah dari zat yang memanggil.



Bukanlah debu itu dari debu kubur mereka, akan tetapidebu itu ialah debu.

KEIMANAN mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui

titian Siratul Mustaqim dan memasuki alam syurga, sehingga setiap orang

melihat para mukmin itu mengetahui bahwa mereka adalah pelayan Ku dan

hamba-hambaKu.



Disebutkan oleh hadith Rasulullah saw bahwa sepuluh orang yang mayatnya

TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati :

1. Para Nabi

2. Para Ahli Jihad

3. Para Alim Ulama

4. Para Syuhada

5. Para Penghafal Al Quran

6. Imam atau Pemimpin yang Adil

7. Tukang Azan

8. Wanita yang mati kelahiran/beranak

9. Orang mati dibunuh atau dianiaya

10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumaat jika mereka itu dari kalangan orang yang beriman.



Didalam satu riwayat yang lain dari Jabir bin Abdullah ra sabda Rasulullah saw:

Apabila datang hari qiamat dan orang orang yang berada di dalam kubur

dibangkitkan maka Allah swt memberi wahyu kepada Malaikat Ridhwan :

Wahai Ridhwan, sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba Ku

berpuasa (ahli puasa) dari kubur mereka di dalam keadaan letih dan dahaga. Maka ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng dan buah buahan syurga.



Maka Malaikat Ridhwan menyeru, wahai sekelian kawan-kawan dan semua

anak-anak yang belum baligh,lalu mereka semua datang dengan membawa

dulang dari nur dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang

penuh dengan buahan dan minuman yang lazat dari syurga dengan sangat

banyak melebihi daun-daun kayu dibumi.



Jika Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi makanan itu

kepada mereka sambil mengucap sebagaimana yang difirman oleh Allah swt di

dalam Surah Al-Haqqah bermaksud :

"Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan AMAL yang telah kamu

kerjakan pada HARI yang telah LALU itu."



* Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Islam yang lain. Ilmu

yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang

mengajarnya meskipun dia sudah mati. "Dan (ingatlah) Allah sentiasa

mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan."



Surah Al-Baqarah : 237

kesabaran seorang muslim

Assalamu'alaikum Wr wb
Kesabaran Seorang Muslim
Orang-orang mukmin selalu sabar jika ditimpa musibah. Jika diminta berbuat kufur, berbuat fasik, atau perbuatan dosa lainnya mereka tidak akan mau. Jika tidak mengerjakannya, mereka mendapatkan gangguan dan siksaan dari orang-orang kafir.

Namun, bagi orang yang beriman lebih baik disiksa dan diganggu daripada berpisah dengan agamanya, bagaimanapun celaan dan hinaan yang diterimanya, dia akan tetap mencintai agamanya, atau walaupun dia diusir dari negerinya, sebagaimana yang pernah dialami oleh kaum Muhajirin ketika mereka memilih berpisah dari negerinya daripada berpisah dengan agamanya.

Walaupun orang-orang kafir menyiksa dan mengganggu, mereka bersabar dengan kesabaran ikhtiari. Kesabaran yang mereka lakukan lebih besar daripada kesabaran Nabi Yusuf karena jika tidak berbuat zina Nabi Yusuf hanya akan disiksa dan dihina. Sedangkan Nabi Muhammad dan para sahabat, jika tidak kembali kafir, diancam akan disiksa, dibunuh, dan disakiti dalam bentuk penyiksaan lainnya, seperti yang dialami beliau dan seluruh Bani Hasyim yang diboikot dan dipenjara di Syi'ib selama tiga tahun. Ketika Abu Thalib meninggal dunia, semakin bertambahlah penyiksaan kalangan musyrikin terhadap kaum muslimin. Ketika mereka mengetahui bahwa kaum Anshar berbai'at kepada beliau, maka kaum musyrikin berusaha untuk menahannya keluar serta menawan sahabat-sahabat Rasul. Tidak ada seorang pun diantara para sahabat berhijrah secara terang-terangan kecuali Umar ibnul Khaththab. Kaum musyrikin melarang kaum muslimin keluar dari rumah mereka. Orang-orang mukmin ketika itu sudah merasakan betul penyiksaan karena ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak pernah terjadi ujian yang turun dari langit dengan pilihan hamba, seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf dan salah seorang sahabat yang berpisah dengan bapaknya karena lebih mencintai agamanya. Keduanya memiliki derajat yang tinggi dan mulia karena orang yang dikenai musibah akan diberi pahala atas kesabaran dan ketabahannya, serta diberi ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Musibah itu ditimpakan kepadanya karena taat kepada Allah. Allah memberikan pahala atas musibah tersebut yang kemudian ditulisnya sebagai amal shaleh sebagaimana firman-Nya berikut ini:

"...Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah. Dan, tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (at-Taubah: 120)

Orang-orang yang ditimpa musibah lain pun, seperti kesedihan yang tidak terduga, tertimpa penyakit, kematian seseorang yang dicintainya, atau harta ada yang mencuri pun akan diberi pahala atas kesabarannya. Penyiksaan karena keimanan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, menyebabkan kaum mukminin mendapatkan kesulitan, penyakit, ditawan, terusir dari negerinya, berpisah dengan harta dan keluarganya, dipukul atau dicaci maki, kehilangan jabatan, atau kehilangan hartanya. Sedangkan, mereka tetap menempuh perjuangan para nabi dan pengikut mereka, seperti para Muhajirin yang akan memperoleh pahala atas siksaan yang menimpa mereka. Allah mencatat bagi mereka pahala amal shaleh, sebagaimana pahala yang diperoleh para mujahid yang telah menderita kelaparan, kehausan, dan kelelahan, bahkan mereka mendapat pahala kerena kemarahan orang kafir terhadap mereka. Kaitannya dengan hal itu, orang-orang berbeda pendapat, apakah amalan yang dilakukan oleh seseorang merupakan penyebab dia memperoleh pahala atau pekerjaan itu harus dilakukan semata-mata untuk Allah SWT? Ataukah pahala akan diperoleh dengan ikut sertanya semua penyebab? Namun yang jelas, semuanya akan ditulis sebagai pahala amal shaleh.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Jumat, 06 Agustus 2010

kumpulan kata-kata bermakna

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ini ada kumpulan kata-kata yang bermakna ..... semoga bermanfaat ....

Ketika Allah Berkata Tidak

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah ambillah kesombonganku dariku."
Allah berkata,
"Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
Allah berkata,
"Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah beri aku kesabaran."
Allah berkata,
"Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan tidakdiberikan, kau harus meraihnya sendiri."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah beri aku kebahagiaan."
Allah berkata,
"Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."


Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan."
Allah berkata,
"Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat."
Allah berkata,
"Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."

Ketika manusia berdo'a,
"Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Allah berkata...
"Akhirnya kau mengerti ...!"

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali
orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es.
Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita.


Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya.
Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.

Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa.


Semoga Bermanfaat

Wassalamu'alaikum..wr..wb

Kamis, 05 Agustus 2010

puasa 2

PUASA                                                    (2/2)
 
d. Wa 'alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha'amu
   miskin (Dan wajib bagi orang yang berat
   menjalankannya membayar fidyah, (yaitu): memberi
   makan seorang miskin) (QS Al-Baqarah [2]: 184).
 
Penggalan ayat ini diperselisihkan maknanya oleh banyak  ulama
tafsir.  Ada  yang  berpendapat  bahwa pada mulanya Allah Swt.
memberi alternatif bagi orang yang wajib puasa, yakni berpuasa
atau berbuka dengan membayar fidyah. Ada juga yang be~pendapat
bahwa ayat ini berbicara tentang para musafir dan orang sakit,
yakni  bagi  kedua  kelompok  ini  terdapat  dua  kemungkinan:
musafir dan orang  yang  merasa  berat  untuk  berpuasa,  maka
ketika  itu  dia harus berbuka; dan ada juga di antara mereka,
yang pada hakikatnya  mampu  berpuasa,  tetapi  enggan  karena
kurang  sehat  dan  atau  dalam  perjalanan,  maka bagi mereka
diperbolehkan untuk berbuka dengan syarat membayar fidyah.
 
Pendapat-pendapat di atas tidak populer di kalangan  mayoritas
ulama.  Mayoritas  memahami  penggalan  ini  berbicara tentang
orang-orang tua  atau  orang  yang  mempunyai  pekerjaan  yang
sangat  berat, sehingga puasa sangat memberatkannya, sedang ia
tidak mempunyai sumber rezeki lain kecuali pekerjaan itu. Maka
dalam  kondisi  semacam  ini. mereka diperbolehkan untuk tidak
berpuasa dengan syarat membayar fidyah. Demikian  juga  halnya
terhadap  orang  yang sakit sehingga tidak dapat berpuasa, dan
diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya. Termasuk juga dalam
pesan  penggalan  ayat  di atas adalah wanita-wanita hamil dan
atau menyusui. Dalam hal ini terdapat rincian sebagai berikut:
 
Wanita yang hamil  dan  menyusui  wajib  membayar  fidyah  dan
mengganti  puasanya  di  hari  lain,  seandainya  yang  mereka
khawatirkan adalah janin atau anaknya  yang  sedang  menyusui.
Tetapi  bila  yang mereka khawatirkan diri mereka, maka mereka
berbuka dan hanya wajib menggantinya di hari lain, tanpa harus
membayar fidyah.
 
Fidyah  dimaksud adalah memberi makan fakir/miskin setiap hari
selama  ia  tidak  berpuasa.  Ada  yang  berpendapat  sebanyak
setengah  sha'  (gantang)  atau kurang lebih 3,125 gram gandum
atau kurma (makanan pokok). Ada juga yang menyatakan satu  mud
yakni   sekitar   lima   perenam  liter,  dan  ada  lagi  yang
mengembalikan penentuan jumlahnya pada kebiasaan yang  berlaku
pada setiap masyarakat.
 
e. Uhilla lakum lailatash-shiyamir-rafatsu ila
   nisa'ikum (Dihalalkan kepada kamu pada malam Ramadhan
   bersebadan dengan istri-istrimu) (QS Al-Baqarah [2]:
   187)
 
Ayat ini membolehkan hubungan seks (bersebadan) di malam  hari
bulan  Ramadhan, dan ini berarti bahwa di siang hari Ramadhan,
hubungan seks  tidak  dibenarkan.  Termasuk  dalam  pengertian
hubungan  seks  adalah  "mengeluarkan  sperma" dengan cara apa
pun. Karena itu walaupun ayat ini tak  melarang  ciuman,  atau
pelukan antar suami-istri, namun para ulama mengingatkan bahwa
hal tersebut bersifat makruh, khususnya bagi yang tidak  dapat
menahan  diri,  karena  dapat  mengakibatkan keluarnya sperma.
Menurut istri Nabi, Aisyah  r.a.,  Nabi  Saw.  pernah  mencium
istrinya  saat  berpuasa.  Nah, bagi yang mencium atau apa pun
selain  berhubungan  seks,  kemudian  ternyata  "basah",  maka
puasanya  batal;  ia harus menggantinya pada hari 1ain. Tetapi
mayoritas ulama tidak mewajibkan  yang  bersangkutan  membayar
kaffarat,  kecuali  jika  ia melakukan hubungan seks (di siang
hari), dan kaffaratnya dalam hal ini  berdasarkan  hadis  Nabi
adalah  berpuasa  dua  bulan berturut-turut. Jika tidak mampu,
maka ia harus memerdekakan hamba. Jika tidak mampu juga,  maka
ia harus memberi makan enam puluh orang miskin.
 
Bagi  yang  melakukan hubungan seks di malam hari, tidak harus
mandi sebelum terbitnya fajar.  Ia  hanya  berkewajiban  mandi
sebelum  terbitnya  matahari  --paling tidak dalam batas waktu
yang memungkinkan ia shalat  subuh  dalam  keadaan  suci  pada
waktunya. Demikian pendapat mayoritas ulama.
 
f. Wakulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul khaith
   al-abyadhu minal khaithil aswadi minal fajr (Makan
   dan minumlah sampai terang bagimu benang putih dan
   benang hitam, yaitu fajar).
 
Ayat ini membolehkan seseorang untuk  makan  dan  minum  (juga
melakukan hubungan seks) sampai terbitnya fajar.
 
Pada   zaman   Nabi,   beberapa   saat  sebelum  fajar,  Bilal
mengumandangkan azan, namun beliau  mengingatkan  bahwa  bukan
itu  yang dimaksud dengan fajar yang mengakibatkan larangan di
atas.  Imsak  yang  diadakan  hanya  sebagai  peringatan   dan
persiapan untuk tidak lagi melakukan aktivitas yang terlarang.
Namun  bila  dilakukan,  maka  dari  segi  hukum  masih  dapat
dipertanggungjawabkan  selama fajar (waktu subuh belum masuk).
Perlu  dingatkan,  bahwa   hendaknya   kita   jangan   terlalu
mengandalkan  azan,  karena  boleh jadi muazin mengumandangkan
azannya setelah berlalu beberapa saat dari waktu subuh. Karena
itu  sangat  beralasan  untuk  menghentikan aktivitas tersebut
saat imsak.
 
g. Tsumma atimmush shiyama ilal lail (Kemudian
   sempurnakanlah puasa itu sampai malam).
 
Penggalan ayat ini datang setelah ada  izin  untuk  makan  dan
minum sampai dengan datangnya fajar.
 
Puasa  dimulai  dengan  terbitnya  fajar,  dan berakhir dengan
datangnya malam. Persoalan yang juga diperbincangkan oleh para
ulama  adalah  pengertian  malam. Ada yang memahami kata malam
dengan tenggelamnya matahari walaupun masih  ada  mega  merah,
dan  ada  juga yang memahami malam dengan hilangnya mega merah
dan menyebarnya  kegelapan.  Pendapat  pertama  didukung  oleh
banyak  hadis  Nabi Saw., sedang pendapat kedua dikuatkan oleh
pengertian kebahasaan dari lail  yang  diterjemahkan  "malam".
Kata  lail  berarti "sesuatu yang gelap" karenanya rambut yang
berwarna hitam pun dinamai lail.
 
Pendapat pertama sejalan juga dengan anjuran Nabi  Saw.  untuk
mempercepat  berbuka  puasa,  dan  memperlambat sahur pendapat
kedua sejalan dengan  sikap  kehatian-hatian  karena  khawatir
magrib sebenarnya belum masuk.
 
Demikian  sedikit  dari  banyak  aspek hukum yang dicakup oleh
ayat-ayat yang berbicara tentang puasa Ramadhan.
 
TUJUAN BERPUASA
 
Secara jelas  Al-Quran  menyatakan  bahwa  tujuan  puasa  yang
hendaknya  diperjuangkan  adalah untuk mencapai ketakwaan atau
la'allakum tattaqun. Dalam  rangka  memahami  tujuan  tersebut
agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw.
misalnya,  "Banyak  di  antara  orang  yang   berpuasa   tidak
memperoleh   sesuatu  daripuasanya,  kecuali  rasa  lapar  dan
dahaga."
 
Ini berarti bahwa menahan diri dari  lapar  dan  dahaga  bukan
tujuan  utama dari puasa. Ini dikuatkan pula dengan firman-Nya
bahwa  "Allah   menghendaki   untuk   kamu   kemudahan   bukan
kesulitan."
 
Di  sisi  lain,  dalam  sebuah  hadis  qudsi, Allah berfirman,
"Semua amal putra-putri Adam  untuk  dirinya,  kecuali  puasa.
Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya."
 
Ini  berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik.
Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat  dikemukakan,
misalnya  bahwa  puasa  merupakan  rahasia  antara  Allah  dan
pelakunya  sendiri.  Bukankah  manusia  yang  berpuasa   dapat
bersembunyi  untuk  minum  dan  makan? Bukankah sebagai insan,
siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk  makan  atau
minum  pada  saat-saat  tertentu  dari  siang hari puasa? Nah,
kalau demikian, apa motivasinya  menahan  diri  dan  keinginan
itu?  Tentu  bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab
jika demikian,  dia  dapat  saja  bersembunyi  dari  pandangan
mereka.   Di  sini  disimpulkan  bahwa  orang  yang  berpuasa,
melakukannya demi  karena  Allah  Swt.  Demikian  antara  lain
penjelasan  sementara  ulama  tentang keunikan puasa dan makna
hadis qudsi di atas.
 
Sementara pakar ada  yang  menegaskan  bahwa  puasa  dilakukan
manusia   dengan   berbagai  motif,  misalnya,  protes,  turut
belasungkawa,  penyucian  diri,  kesehatan,  dan  sebagai-nya.
Tetapi  seorang  yang  berpuasa  Ramadhan dengan benar, sesuai
dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan
melakukannya karena Allah semata.
 
Di  sini  Anda  boleh bertanya, "Bagaimana puasa yang demikian
dapat mengantarkan manusia kepada  takwa?"  Untuk  menjawabnya
terlebih  dahulu  harus  diketahui  apa  yang  dimaksud dengan
takwa.
 
PUASA DAN TAKWA
 
Takwa  terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  menghindar,
menjauhi,  atau  menjaga  diri.  Kalimat  perintah  ittaqullah
secara harfiah berarti, "Hindarilah,  jauhilah,  atau  jagalah
dirimu dari Allah"
 
Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk.
Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari  Allah  atau
menjauhi-Nya,  sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di mana pun
kamu berada." Karena itu perlu disisipkan  kata  atau  kalimat
untuk  meluruskan  maknanya.  Misalnya  kata  siksa  atau yang
semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung  arti
perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.
 
Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam.
 
  a. Siksa di dunia akibat pelanggaran terhadap
     hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam
     raya ini, seperti misalnya, "Makan berlebihan dapat
     menimbulkan penyakit," "Tidak mengendalikan diri
     dapat menjerumuskan kepada bencana", atau "Api panas,
     dan membakar", dan hukum-hukum alam dan masyarakat
     lainnya.
     
  b. Siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap
     hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri,
     melanggar hak-hak manusia, dan 1ain-lain yang dapat
     mengakibatkan siksa neraka.
 
Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman
Allah,  diperoleh  dengan jalan menghindarkan diri dari segala
yang dilarangnya serta mengikuti apa  yang  diperintahkan-Nya.
Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau
takut dari yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa  takut  ini,  pada
mulanya  timbul  karena  adanya  siksaan, tetapi seharusnya ia
timbul karena adanya Allah Swt. (yang menyiksa)."
 
Dengan demikian yang  bertakwa  adalah  orang  yang  merasakan
kehadiran  Allah  Swt. setiap saat, "bagaikan melihat-Nya atau
kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak,
menyadari  bahwa  Allah  melihatnya," sebagaimana bunyi sebuah
hadis.
 
Tentu banyak cara yang  dapat  dilakukan  untuk  mencapai  hal
tersebut,  antara  1ain  dengan  jalan berpuasa. Puasa seperti
yang  dikemukakan  di  atas  adalah  satu  ibadah  yang  unik.
Keunikannya  antara  lain  karena  ia  merupakan upaya manusia
meneladani Allah Swt.
 
PUASA MENELADANI SIFAT-SIFAT ALLAH
 
Beragama  menurut  sementara  pakar   adalah   upaya   manusia
meneladani  sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia
sebagai  makhluk.  Nabi  Saw.  memerintahkan,  "Takhallaqu  bi
akhlaq Allah" (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).
 
Di  sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan
yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu  makan,  minum,
dan  hubungan  seks. Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya antara
lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri:
 
     Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak
     memiliki istri? (QS Al-An'am [6]: 101)
 
     Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia
     tidak beristri dan tidak pula beranak (QS Al-Jin
     [72]: 3).
 
Al-Quran juga memerintahkan Nabi Saw. untuk menyampaikan,
 
     Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang
     menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan
     dan tidak diberi makan...? (QS Al-An'am [6]: 14).
 
Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal
mencontohi  sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum,
bahkan memberi makan orang lain (ketika  berbuka  puasa),  dan
tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.
 
Tentu  saja  sifat-sifat  Allah tidak terbatas pada ketiga hal
itu, tetapi mencakup  paling  tidak  sembilan  puluh  sembilan
sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai
dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk  ilahi.
Misalnya  Maha  Pengasih  dan  Penyayang, Mahadamai, Mahakuat,
Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya  peneladanan  ini  dapat
mengantarkan  manusia  menghadirkan  Tuhan dalam kesadarannya,
dan  bila  hal  itu  berhasil  dilakukan,  maka  takwa   dalam
pengertian di atas dapat pula dicapai.
 
Karena  itu,  nilai  puasa  ditentukan  oleh  kadar pencapaian
kesadaran  tersebut  --bukan  pada  sisi  lapar  dan  dahaga--
sehingga   dari   sini  dapat  dimengerti  mengapa  Nabi  Saw.
menyatakan bahwa, "Banyak orang yang  berpuasa,  tetapi  tidak
memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."
 
PUASA UMAT TERDAHULU
 
Puasa  telah  dilakukan  oleh umat-umat terdahulu. Kama kutiba
'alal  ladzina  min  qablikum  (Sebagaimana  diwajibkan   atas
(umat-umat)  yang  sebelum kamu). Dari segi ajaran agama, para
ulama  menyatakan  bahwa  semua  agama  samawi,   sama   dalam
prinsip-prinsip  pokok  akidah,  syariat, serta akhlaknya. Ini
berarti bahwa semua agama samawi  mengajarkan  keesaan  Allah,
kenabian, dan keniscayaan hari kemudian. Shalat, puasa, zakat,
dan berkunjung ke tempat tertentu  sebagai  pendekatan  kepada
Allah   adalah  prinsip-prinsip  syariat  yang  dikenal  dalam
agama-agama samawi.  Tentu  saja  cara  dan  kaifiatnya  dapat
berbeda, namun esensi dan tujuannya sama.
 
Kita dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi
umat islam dan umat-umat terdahulu?
 
Manusia  memiliki  kebebasan  bertindak  memilih  dan  memilah
aktivitasnya,  termasuk  dalam  hal  ini,  makan,  minum,  dan
berhubungan  seks.  Binatang   --khususnya   binatang-binatang
tertentu--  tidak  demikian.  Nalurinya  telah mengatur ketiga
kebutuhan pokok itu,  sehingga  --misalnya--  ada  waktu  atau
musim  berhubungan  seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi
memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan,  dan
atau menghindarkannya dari kebinasaan.
 
Manusia sekali lagi tidak demikian. Kebebasan yang dimilikinya
bila tidak terkendalikan dapat menghambat  pelaksanaan  fungsi
dan peranan yang harus diembannya. Kenyataan menunjukkan bahwa
orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang
diperlukan,  bukan  saja  menjadikannya  tidak  lagi menikmati
makanan  atau  minuman  itu,  tetapi  juga  menyita  aktivitas
lainnya  kalau  enggan  berkata  menjadikannya  lesu sepanjang
hari.
 
Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi  semakin  haus
bagaikan  penyakit  eksim  semakin  digaruk semakin nyaman dan
menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok.
 
Potensi dan daya  manusia  --betapa  pun  besarnya--  memiliki
keterbatasan,  sehingga  apabila  aktivitasnya telah digunakan
secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan  kebutuhan
faali  misalnya--  maka  arah  yang lain, --mental spiritual--
akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.
 
Sebagaimana disinggung di atas, esensi  puasa  adalah  menahan
atau  mengendalikan  diri.  Pengendalian  ini  diperlukan oleh
manusia, baik secara individu  maupun  kelompok.  Latihan  dan
pengendalian diri itulah esensi puasa.
 
Puasa dengan demikian dibutuhkan oleh semua manusia, kaya atau
miskin, pandai atau  bodoh,  untuk  kepentingan  pribadi  atau
masyarakat.   Tidak   heran  jika  puasa  telah  dikenal  oleh
umat-umat sebelum umat Islam, sebagaimana diinformasikan  oleh
Al-Quran.
 
Dari  penjelasan  ini,  kita  dapat  melangkah untuk menemukan
salah satu jawaban tentang rahasia  pemilihan  bentuk  redaksi
pasif  dalam  menetapkan  kewajiban  puasa. Kutiba 'alaikumush
shiyama (diwajibkan atas kamu  puasa),  tidak  menyebut  siapa
yang mewajibkannya?
 
Bisa  saja  dikatakan  bahwa pemilihan bentuk redaksi tersebut
disebabkan karena yang mewajibkannya  sedemikian  jelas  dalam
hal  ini  adalah  Allah  Swt.  Tetapi  boleh  jadi  juga untuk
mengisyaratkan  bahwa  seandainya   pun   bukan   Allah   yang
mewajibkan  puasa,  maka manusia yang menyadari manfaat puasa,
dan akan mewajibkannya atas dirinya sendiri. Terbukti motivasi
berpuasa (tidak makan atau mengendalikan diri) yang selama ini
dilakukan manusia,  bukan  semata-mata  atas  dorongan  ajaran
agama.  Misalnya  demi  kesehatan,  atau kecantikan tubuh, dan
bukankah pula  kepentingan  pengendalian  diri  disadari  oleh
setiap makhluk yang berakal?
 
Di  sisi  lain bukankah Nabi Saw. bersabda, "Seandainya umatku
mengetahui (semua keistimewaan) yang dikandung oleh  Ramadhan,
niscaya mereka mengharap seluruh bulan menjadi Ramadhan."
 
KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN
 
Dalam  rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah
menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan
pada  ayat  lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam
Qadar,
 
     Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada
     Lailat Al-Qadr.
 
Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar  itu,
yang  menurut  Al-Quran  lebih  baik  dari  seribu bulan. Para
malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun  seizin  Tuhan,
dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.
 
Di sisi lain --sebagaimana disinggung pada awal uraian-- bahwa
dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang
mengandung   pesan   tentang   kedekatan   Allah  Swt.  kepada
hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa  --siapa
pun yang dengan tulus berdoa.
 
Dari   hadis-hadis  Nabi  diperoleh  pula  penjelasan  tentang
keistimewaan  bulan  suci  ini.  Namun  seandainya  tidak  ada
keistimewaan  bagi  Ramadhan  kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal
itu pada hakikatnya telah cukup untuk  membahagiakan  manusia.
[]

puasa 1


PUASA                                                    (1/2)
 
MARHABAN YA RAMADHAN
 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "marhaban"  diartikan
sebagai "kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang
berarti selamat datang)." Ia sama dengan ahlan wa sahlan  yang
juga dalam kamus tersebut diartikan "selamat datang."
 
Walaupun    keduanya    berarti    "selamat   datang"   tetapi
penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan  ahlan  wa
sahlan  untuk  menyambut  datangnya  bulan Ramadhan, melainkan
"marhaban ya Ramadhan".
 
Ahlan  terambil  dari  kata  ahl  yang   berarti   "keluarga",
sedangkan  sahlan  berasal  dari kata sahl yang berarti mudah.
Juga berarti "dataran  rendah"  karena  mudah  dilalui,  tidak
seperti  "jalan  mendaki".  Ahlan  wa  sahlan, adalah ungkapan
selamat datang,  yang  dicelahnya  terdapat  kalimat  tersirat
yaitu,  "(Anda  berada  di tengah) keluarga dan (melangkaLkar1
kaki di) dataran rendah yang mudah."
 
Marhaban terambil dari kata  rahb  yang  berarti  "luas"  atau
"lapang",  sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut
dan diterima  dengan  dada  lapang,  penuh  kegembiraan  serta
dipersiapkan  baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja
yang  diinginkannya.  Dari  akar   kata   yang   sama   dengan
"marhaban",  terbentuk  kata  rahbat  yang antara lain berarti
"ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau
kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan." Marhaban ya
Ramadhan berarti "Selamat  datang  Ramadhan"  mengandung  arti
bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan;
tidak   dengan   menggerutu   dan   menganggap    kehadirannya
"mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita.
 
Marhaban  ya  Ramadhan,  kita  ucapkan  untuk  bulan suci itu,
karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh
guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.
 
Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya,
itulah nafsu. Di gunung itu ada  lereng  yang  curam,  belukar
yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis
yang merayu,  agar  perjalanan  tidak  melanjutkan.  Bertambah
tinggi  gunung  didaki,  bertambah  hebat  ancaman dan rayuan,
semakin curam dan ganas pula perjalanan.  Tetapi,  bila  tekad
tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan
saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu  jalan,  tampak
tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih
untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan  akan
ditemukan  kendaraan  Ar-Rahman  untuk  mengantar sang musafir
bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt.  Demikian  kurang  lebih
perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.
 
Tentu  kita  perlu  mempersiapkan  bekal guna menelusuri jalan
itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang
harus  kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk
memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan  malam  Ramadhan
dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada
Allah melalui  pengabdian  untuk  agama,  bangsa  dan  negara.
Semoga  kita  berhasil,  dan untuk itu mari kita buka lembaran
Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.
 
PUASA MENURUT AL-QURAN
 
Al-Quran  menggunakan  kata  shiyam  sebanyak  delapan   kali,
kesemuanya  dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat.
Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum,  tetapi  maknanya
adalah menahan diri untuk tidak bebicara:
 
     Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari
     ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia
     pun (QS Maryam [19]: 26).
 
Demikian ucapan  Maryam  a.s.  yang  diajarkan  oleh  malaikat
Jibril   ketika  ada  yang  mempertanyakan  tentang  kelahiran
anaknya (Isa  a.s.).  Kata  ini  juga  terdapat  masing-masing
sekali  dalam  bentuk  perintah  berpuasa  di  bulan Ramadhan,
sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa "berpuasa
adalah   baik   untuk   kamu",   dan  sekali  menunjuk  kepada
pelaku-pelaku  puasa  pria  dan  wanita,   yaitu   ash-shaimin
wash-shaimat.
 
Kata-kata  yang  beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari
akar kata yang sama yakni  sha-wa-ma  yang  dari  segi  bahasa
maknanya  berkisar  pada  "menahan"  dan "berhenti atau "tidak
bergerak". Kuda yang berhenti berjalan  dinamai  faras  shaim.
Manusia  yang  berupaya menahan diri dari satu aktivitas --apa
pun  aktivitas  itu--  dinamai  shaim  (berpuasa).  Pengertian
kebahasaan  ini,  dipersempit  maknanya  oleh  hukum  syariat,
sehingga shiyam hanya digunakan untuk "menahan diri dar makan,
minum,  dan  upaya  mengeluarkan  sperma  dari terbitnya fajar
hingga terbenamnya matahari".
 
Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan  tujuan  puasa,  menambahkan
kegiatan  yang  harus  dibatasi  selama  melakukan  puasa. Ini
mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan
pikiran dari melakukan segala macam dosa.
 
Betapa pun, shiyam atau shaum --bagi manusia-- pada hakikatnya
adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula  puasa
dipersamakan  dengan  sikap  sabar,  baik dari segi pengertian
bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran
dan puasa.
 
Hadis   qudsi   yang  menyatakan  antara  lain  bahwa,  "Puasa
untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran" dipersamakan  oleh
banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.
 
     Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang
     disempurnakan pahalanya tanpa batas.
 
Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.
 
Ada  beberapa  macam  puasa  dalam  pengertian   syariat/hukum
sebagaimana disinggung di atas.
 
     1. Puasa wajib sebutan Ramadhan.
     
     2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran, atau
        semacamnya.
     
     3. Puasa sunnah.
 
Tulisan ini akan membatasi uraian pada hal-hal  yang  berkisar
pada puasa bulan Ramadhan.
 
PUASA RAMADHAN
 
Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam  surat
Al-Baqarah  (2):  183,  184,  185,  dan 187. Ini berarti bahwa
puasa Ramadhan baru  diwajibkan  setelah  Nabi  Saw.  tiba  di
Madinah,  karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat A1-Baqarah
turun di Madinah. Para sejarawan  menyatakan  bahwa  kewajiban
melaksanakan  puasa  Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya'ban
tahun kedua Hijrah.
 
Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran  selama
sebutan  penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran
yang   seringkali   melakukan   penahapan   dalam    perintah-
perintahnya,   maka   agaknya  kewajiban  berpuasa  pun  dapat
dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman  ma'dudat
(beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai
tiga  hari  dalam  sebutan  yang  merupakan  tahap  awal  dari
kewajiban  berpuasa.  Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang
dengan turunnya ayat 185:
 
     Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri
     tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka
     hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa
     yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya
     berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya.
 
Pemahaman semacam  ini  menjadikan  ayat-ayat  puasa  Ramadhan
terputus-putus  tidak  menjadi  satu  kesatuan. Merujuk kepada
ketiga ayat puasa  Ramadhan  sebagai  satu  kesatuan,  penulis
lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa
Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil
bahwa   Nabi  dan  sahabatnya  telah  melakukan  puasa  sunnah
sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari  Al-Quran,  apalagi
tidak  ditemukan  satu  ayat  pun yang berbicara tentang puasa
sunnah tertentu.
 
Uraian Al-Quran tentang kewajiban  puasa  di  bulan  Ramadhan,
dimulai  dengan  satu  pendahuluan  yang  mendorong umat islam
untuk melaksanakannya dengan  baik,  tanpa  sedikit  kekesalan
pun.
 
Perhatikan  surat  Al-Baqarah  (2):  185.  ia  dimulai  dengan
panggilan mesra, "Wahai orang-orang yang  beriman,  diwajibkan
kepada  kamu  berpuasa."  Di  sini tidak dijelaskan siapa yang
mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa  itu,
tetapi   terlebih   dahulu   dikemukakan  bahwa,  "sebagaimana
diwajibkan terhadap umat-umat sebelum  kamu."  Jika  demikian,
maka  wajar  pula  jika  umat  Islam  melaksanakannya, apalagi
tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan  yang  berpuasa
sendiri yakni "agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa)."
 
Kemudian Al-Quran dalam surat A1-Baqarah (2): 186  menjelaskan
bahwa  kewajiban  itu  bukannya  sepanjang tahun, tetapi hanya
"beberapa hari tertentu," itu pun hanya diwajibkan  bagi  yang
berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan
sehat, sehingga "barangsiapa  sakit  atau  dalam  perjalanan,"
maka  dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia
tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari  yang  lain.
"Sedang  yang  merasa  sangat  berat  berpuasa,  maka (sebagai
gantinya) dia  harus  membayar  fidyah,  yaitu  memberi  makan
seorang  miskin." Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan
bahwa "berpuasa adalah baik."
 
Setelah itu disusul  dengan  penjelasan  tentang  keistimewaan
bulan  Ramadhan,  dan  dari  sini  datang  perintah-Nya  untuk
berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan  bahwa
orang  yang  sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa
dengan  memberikan  penegasan  mengenai   peraturan   berpuasa
sebagaimana  disebut  sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa
Ramadhan ditutup dengan  "Allah  menghendaki  kemudahdn  untuk
kamu bukan kesulitan," lalu diakhiri dengan perintah bertakbir
dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa,  tetapi
tentang  doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya
dalam uraian Al-Quran tentang puasa  tentu  mempunyai  rahasia
tersendiri.  Agaknya  ia  mengisyaratkan bahwa berdoa di bu1an
Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan,  dan  karena
itu   ayat  tersebut  menegaskan  bahwa  "Allah  dekat  kepada
hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa."
 
Selanjutnya ayat 187 antara  lain  menyangkut  izin  melakukan
hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang
lamanya puasa yang  harus  dikerjakan,  yakni  dari  terbitnya
fajar sampai terbenamnya matahari.
 
Banyak   informasi   dan  tuntunan  yang  dapat  ditarik  dari
ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan  puasa.
Berikut  akan  dikemukan  sekelumit baik yang berkaitan dengan
hukum  maupun  hikmahnya,  dengan  menggarisbawahi  kata  atau
kalimat dari ayat-ayat puasa di atas.
 
BEBERAPA ASPEK HUKUM BERKAITAN DENGAN PUASA
 
a. Faman kana minkum maridha (Siapa di antara kamu
   yang menderita sakit)
 
Maridh berarti sakit. Penyakit dalam kaitannya dengan berpuasa
secara garis besar dapat dibagi dua:
 
  1. Penderita tidak dapaat berpuasa; dalam hal ini ia
     wajib berbuka; dan
     
  2. Penderita dapat berpuasa, tetapi dengan mendapat
     kesulitan atau keterlambatan penyembuhan, maka ia
     dianjurkan tidak berpuasa.
 
Sebagian ulama menyatakan bahwa penyakit apa pun yang diderita
oleh seseorang, membolehkannya untuk berbuka. Ulama besar ibnu
Sirin, pernah ditemui makan  di  siang  hari  bukan  Ramadhan,
dengan  alasan  jari  telunjuknya  sakit.  Betapa  pun,  harus
dicatat, bahwa Al-Quran tidak merinci persolan ini. Teks  ayat
mencakup pemahaman ibnu Sirin tersebut. Namun demikian agaknya
kita dapat berkata bahwa Allah Swt.  sengaja  memilih  redaksi
demikian, guna menyerahkan kepada nurani manusia masing-masing
untuk menentukan sendiri apakah ia  berpuasa  atau  tidak.  Di
sisi lain harus diingat bahwa orang yang tidak berpuasa dengan
alasan sakit atau dalam perjalanan  tetap  harus  menggantikan
hari-hari ketika ia tidak berpuasa dalam kesempatan yang lain.
 
b. Aw'ala safarin (atau dalam perjalanan)
 
Ulama-ulama berbeda pendapat tentang  bolehnya  berbuka  puasa
bagi  orang  yang sedang musafir. Perbedaan tersebut berkaitan
dengan jarak perjalanan. Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa
jarak  perjalanan  tersebut  sekitar  90 kilometer, tetapi ada
juga yang tidak menetapkan jarak tertentu,  sehingga  seberapa
pun  jarak yang ditempuh selama dinamai safar atau perjalanan,
maka  hal  itu  merupakan  izin  untuk  memperoleh   kemudahan
(rukhshah).
 
Perbedaan  lain  berkaitan  dengan  'illat  (sebab)  izin ini.
Apakah karena  adanya  unsur  safar  (perjalanan)  atau  unsur
keletihan akibat perjalanan. Di sini, dipermasalahkan misalnya
jarak antara Jakarta-Yogya yang ditempuh dengan pesawat kurang
dari  satu  jam,  serta  tidak  meletihkan,  apakah  ini dapat
dijadikan alasan untuk berbuka atau  meng-qashar  shalat  atau
tidak.  Ini  antara  lain berpulang kepada tinjauan sebab izin
ini.
 
Selanjutnya mereka  juga  memperselisihkan  tujuan  perjalanan
yang  membolehkan  berbuka  (demikian juga qashar dan menjamak
shalat). Apakah  perjalanan  tersebut  harus  bertujuan  dalam
kerangka  ketaatan  kepada  Allah,  misalnya  perjalanan haji,
silaturahmi, belajar, atau termasuk juga perjalanan bisnis dan
mubah (yang dibolehkan) seperti wisata dan sebagainya? Agaknya
alasan yang memasukkan hal-hal  di  atas  sebagai  membolehkan
berbuka,  lebih  kuat,  kecuali jika perjalanan tersebut untuk
perbuatan  maksiat,  maka  tentu   yang   bersangkutan   tidak
memperoleh  izin  untuk  berbuka  dan atau menjamak shalatnya.
Bagaimana  mungkin  orang  yang  durhaka   memperoleh   rahmat
kemudahan dari Allah Swt.?
 
Juga  diperselisihkan  apakah  yang  lebih  utama bagi seorang
musafir, berpuasa atau berbuka? Imam Malik  dan  imam  Syafi'i
menilai  bahwa  berpuasa  lebih utama dan lebih baik bagi yang
mampu,  tetapi  sebagian  besar  ulama  bermazhab  Maliki  dan
Syafi'i  menilai  bahwa  hal  ini  sebaiknya diserahkan kepada
masing-masing pribadi, dalam arti  apa  pun  pilihannya,  maka
itulah  yang lebih baik dan utama. Pendapat ini dikuatkan oleh
sebuah riwayat dari imam Bukhari dan Muslim melalui  Anas  bin
Malik  yang menyatakan bahwa, "Kami berada dalam perjalanan di
bulan Ramadhan, ada  yang  berpuasa  dan  adapula  yang  tidak
berpuasa.  Nabi  tidak  mencela  yang berpuasa, dan tidak juga
(mereka) yang tidak berpuasa."
 
Memang ada juga ulama yang beranggapan  bahwa  berpuasa  lebih
baik  bagi orang yang mampu. Tetapi, sebaliknya, ada pula yang
menilai bahwa berbuka lebih baik  dengan  alasan,  ini  adalah
izin  Allah.  Tidak  baik  menolak  izin dan seperti penegasan
Al-Quran  sendiri  dalam  konteks  puasa,  "Allah  menghendaki
kemudahan untuk kamu dan tidak menghendaki kesulitan."
 
Bahkan  ulama-ulama  Zhahiriyah dan Syi'ah mewajibkan berbuka,
antara lain berdasar firman-Nya dalam lanjutan ayat  di  atas,
yaitu:
 
c. Fa 'iddatun min ayyamin ukhar (sebanyak hari yang
   ditinggalkan itu pada hari-hari lain).
 
Ulama  keempat  mazhab  Sunnah   menyisipkan   kalimat   untuk
meluruskan  redaksi  di  atas,  sehingga  terjemahannya  lebih
kurang berbunyi, "Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan
(dan   ia  tidak  berpuasa),  maka  (wajib  baginya  berpuasa)
sebanyak hari-hari yang ditinggalkan itu pada  hari-hari  yang
lain."
 
Kalimat  "lalu  ia  tidak  berpuasa"  adalah sisipan yang oleh
ulama perlu adanya, karena terdapat sekian banyak  hadis  yang
membolehkan  berpuasa  dalam  perjalanan,  sehingga  kewajiban
mengganti itu, hanya ditujukan kepada para musafir  dan  orang
yang sakit tetapi tidak berpuasa.
 
Sisipan  semacam ini ditolak oleh ulama Syi'ah dan Zhahiriyah,
sehingga dengan demikian --buat mereka--  menjadi  wajib  bagi
orang  yang  sakit  dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa,
dan wajib pula menggantinya pada hari-hari yang  lain  seperti
bunyi harfiah ayat di atas.
 
Apakah    membayar   puasa   yang   ditinggalkan   itu   harus
berturut-turut? Ada sebuah hadis --tetapi dinilai lemah-- yang
menyatakan  demikian.  Tetapi  ada riwayat lain melalui Aisyah
r.a. yang menginformasikan bahwa memang awalnya ada kata  pada
ayat   puasa   yang   berbunyi   mutatabi'at,  yang  maksudnya
memerintahkan  penggantian  (qadha')   itu   harus   dilakukan
bersinambung tanpa sehari pun berbuka sampai selesainya jumlah
yang diwajibkan. Tetapi kata mutatabi'at dalam fa 'iddatun min
ayyamin   ukhar   mutatabi'at   yang   berarti   berurut  atau
bersinambung itu, kemudian dihapus oleh  Allah  Swt.  Sehingga
akhirnya  ayat  tersebut  tanpa  kata  ini,  sebagaimana  yang
tercantum dalam Mushaf sekarang.
 
Meng-qadha' (mengganti) puasa, apakah harus segera, dalam arti
harus   dilakukannya   pada   awal   Syawal,   ataukah   dapat
ditangguhkan sampai sebelum datangnya Ramadhan berikut?  Hanya
segelintir  kecil  ulama  yang  mengharuskan sesegera mungkin,
namun umumnya tidak  mengharuskan  ketergesaan  itu,  walaupun
diakui  bahwa semakin cepat semakin baik. Nah, bagaimana kalau
Ramadhan berikutnya sudah berlalu, kemudian kita tidak  sempat
menggantinya,  apakah  ada  kaffarat akibat keterlambatan itu?
Imam Malik, Syafi'i, dan Ahmad, berpendapat bahwa  di  samping
berpuasa,  ia  harus  membayar  kaffarat  berupa memberi makan
seorang miskin; sedangkan imam Abu  Hanifah  tidak  mewajibkan
kaffarat  dengan  alasan  tidak  dicakup  oleh redaksi ayat di
atas.

Rabu, 04 Agustus 2010

mencintai rosulullah SAW

Mencintai Rasulullah SAW

Setiap memasuki Bulan Rabi'ul Awwal umat Islam di Indonesia khususnya banyak disibukkan dengan berbagai macam rangkaian kegiatan yang biasa disebut peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Di masjid-masjid, mushalla-mushalla, majlis taklim-majlis taklim, kantor-kantor pemerintahan dan swasta, bahkan sampai ke Istana negara tidak luput dari kegiatan semacam itu. Beragam variasi kegiatan dilakukan, dengan satu semangat yang mereka sebut sebagai hormat dan cinta kepada Rasulullah saw.

Untuk itulah, sekalipun di tengah masa krisis ekonomi sekalipun, mereka tak segan-segan meluangkan waktu, memeras keringat dan rela mengeluarkan banyak biaya. Untuk suatu kepanitiaan acara tersebut minimal dikeluarkan anggaran dua juta rupiah. Di Jabotabek, hampir bisa dipastikan ada lebih dari 500 acara peringatan yang digelar, maka bila dikumpulkan, untuk penyelenggaraan itu saja, dalam satu bulan ini akan terkumpul dana yang cukup besar; 1 miliyar rupiah, suatu jumlah yang sangat berarti untuk membantu ummat mengatasi masalah akibat krisis moneter tersebut.

Dengan melaksanakan acara peringatan maulid nabi mereka mengklaim diri mereka sebagai orang yang mencintai Rasulullah saw. Bahkan mereka menuduh orang atau kelompok yang tidak melaksanakannya tidak mencintai Rasulullah saw. Padahal kalau mencari asal-usul peringatan tersebut tidaklah kita dapatkan pada generasi terdahulu umat ini. Memang benar cinta dan hormat kepada Rasulullah bukan saja ciri keimanan seorang muslim tetapi dia adalah kebenaran ilmiah dan realita yang mensejarah, sebab seperti diakui oleh Encyclopedia Britanica : "Muhammad (saw) merupakan salah satu tokoh dunia agama seluruhnya yang paling sukses dan paling beruntung" (Asy-Syeikh Khalil Yasin,1991/81), tetapi cinta dan hormat kepada Rasulullah saw. hakekatnya adalah cinta pada Allah, yang tercermin pada ittiba' kita kepada Rasulullah saw, Allah SWT berfirman :

Artinya :"Katakanlah bila kalian sungguh cinta kepada Allah maka ikutilah Aku (Muhammad) sehingga Allah pun pasti akan mencintai anda bahkan mengampuni dosa-dosa anda " (QS 3: 31)

Rasulullah SAW menyatakan dengan amat jelas bahwa fungsi pengutusannya sebagai penyelamat manusia dalam kehidupan ini. Allah pun seringkali menjelaskan dalam al-Qur'an tentang fungsi Rasul bagi kehidupan manusia (lihat QS 3: 103, 163 dan 62: 2). Fungsi itulah yang seharusnya dijadikan tema sentral untuk memotivasi umat agar meneladani jalan hidup Rasulullah saw yang sarat dengan niali-nilai dalam berbagai aspek kehidupan, maka jangan malu-malu dan jangan ragu meyakini dan menyatakan "ar-Rasul Qudwatuna" (Rasulullah Muhammad saw adalah Teladan kami).

Kalau pengakuan tersebut hanya sebatas pengakuan belaka, tanpa dilandasi keyakinan yang kokoh dan tindak lanjut berupa kerja nyata; maka -dikhawatirkan- hal itu akan menjadi fatamorgana yang merupakan sikap kekufuran atau sikap kemunafikan (na'uzubillah), karena istilah iman artinya; keyakinan, pengakuan dan pembuktian; meyakini dengan hati, mengakui dengan pengungkapan lisan atau tulisan dan membuktikannya dengan amal perbuatan dan kerja nyata (Abdul Majid az-Zindani, 1983-8).

Cinta terhadap Rasulullah saw. mutlak harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah swt. bahkan sekedar adanya rasa cinta kepada Rasullah saw. tersebut belumlah cukup seorang dikatakan telah beriman, tapi harus mengalahkan perasaan-perasaan cinta yang lain, termasuk rasa cinta kepada dirinya sendiri. Ketika Umar ibn Khattab ra. mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Tidaklah beriman seorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai dari bapaknya, anaknya, dan dari semua manusia", ia berkata: "Demi Allah, wahai Rasulullah saw. sungguh Engkau telah aku cintai lebih dari semuanya, kecuali dari diri saya sendiri". Mendengar ungkapannya Rasulullah saw. bersabda: "Tidak Umar, sampai Engkau mencintai aku melebihi cintamu terhadap dirimu sendiri". Umar menjawab: "Sekarang wahai Rasulullah saw. sungguh Engkau telah aku cintai melebihi diriku sendiri".

Menomer duakan cinta Rasulullah saw. bukan hanya menafikan keimanan seseorang, bahkan mengakibatkan datangnya azab Allah swt. kepadanya. Allah swt berfirman: "Katakanlah! Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang engkau khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang engkau sukai adalah lebih engkau cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. QS. Al Taubah: 24.

Kata cinta biasa diidentikkan dengan suka atau senang, tetapi rasa cinta itu juga dibarengi dengan harapan pada sesuatu yang disukai serta ada kekhawatiran kehilangan sesuatu itu. Dengan kata lain cinta adalah paduan suka, harap dan takut pada hati manusia. Cinta secara umum dapat dibagi dua:

1. Cinta syahwati yaitu rasa cinta yang didasari keinginan untuk memiliki yang dicintai, rasa suka kepada sesuatu merupakan bawaan manusia yang suci (fitrah), motivasi rasa cinta syahwati adalah keinginan pribadi belaka.

2. Cinta imani, yaitu rasa cinta yang motivasinya adalah keimanan.

Cinta kepada Rasulullah adalah cinta yang motivasinya iman kepada Allah, sedangkan meniru, meneladani, mengikuti dan mentaati ajaran Rasulullah adalah konsekuensi dari pengakuan dan perasaan cinta. Itulah maksud dari firman Allah SWT:

Artinya :"Katakanlah bila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah Aku (Muhammad) sehingga Allah pun pasti akan mencintai anda bahkan mengampuni dosa-dosa anda ". (QS 3: 31)

Dengan dalil-dalil di atas maka jelaslah bahwa cinta Rasulullah saw. merupakan suatu kewajiban yang harus di utamakan. Permasalahannya adalah bagaimana bentuk kecintaan kita kepada beliau. Kecintaan seorang terhadap Rasulullah dikatakan benar manakala memenuhi beberapa kriteria berikut:

1. Senantiasa mentaati perintahnya.
Mentaati Rasulullah saw. dalam segala perintahnya adalah merupakan satu keniscayaan bagi setiap pribadi umat Islam, dalam hal yang disukai ataupun tudak disukainya. Karena semua perintahnya mengandung kebaikan bagi umatnya. Hal ini tiada lain karena pribadi Rasulullah saw. yang ma'shum, dan seluruh ketetapannya adalah wahyu. Seorang yang perilakunya terbingkai dalam ketaatan kepadanya adalah merupakan cerminan kecintaannya kepada beliau.

2. Selalu mengingatnya.
Orang yang mencintai Rasulullah saw. ia akan senantiasa mengingatnya dalam setiap aktivitasnya. Dalam melaksanakan aktivitasnya ia selalu berusaha mengacu pada ketetapan Rasulullah saw. Ia juga banyak memanjatkan shalawat kepadanya.

3. Selalu merindukannya.
Orang yang merindukan Rasulullah saw. ia akan senantiasa berusaha melaksanakan amalan-amalan yang akan mendekatkan posisinya dari Rasulullah saw. sebagaimana yang beliau tegaskan dalam hadis-hadisnya, di antaranya dengan mengasuh anak yatim dan menanggung beban hidupnya. Rasulullah menggambarkan kedekatan orang tersebut dengannya sebagaimana dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah

4. Rela berkorban untuknya.
Kadar kecintaan seseorang bisa diukur dengan kesiapan dia untuk berkorban demi orang yang dicintainya. Begitu pula cinta kepada Rasulullah saw. Seorang sahabat yang bernama Khabbab ibn 'Ady, didepan salib kematiannya ditanya: "Maukah engkau dibebaskan dari hukuman ini dengan syarat Muhammad menggantikan posisimu?" Dia menjawab: "Demi Allah, saya tidak akan rela jika muhammad tertusuk duri sementara aku dalam keadaan aman, apalagi harus mengganti posisiku ini". Hal tersebut menunjukkan betapa besar kecintaannya kepada Rasulullah saw. Kemudian ia menyampaikan untaian syair yang terkenal. Ia berkata:

"Aku tidak peduli dalam kondisi apapun dan bagian manapun (dari anggauta tubuhku) aku harus menemui kematianku, selama aku mati dalam keadaan muslim".


Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan, bahwa central-Issue ketika mengenang kelahiran Nabi saw, yaitu menjadikan Rasul sebagai panutan agung dan qudwah hasanah dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada tanggal 12 Rabiul Awal yang merupakan tanggal kelahiran Rasulullah sesungguhnya juga merupakan tanggal wafat Rasulullah saw. Saat itu para Sahabat menangis dan bersedih hati berpisah dan ditinggalkan beliau. Adakah kita juga bersedih karena ditinggalkan Rasulullah saw sebagai qudwah kita atau sebaliknya bergembira ria dengan acara yang justru tak pernah beliau tuntunkan. Wallahu a'lam bishawab.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.

tujuh keajaiban dunia

Sekelompok pelajar kelas geografi belajar mengenai
"Tujuh Keajaiban Dunia."
Pada akhir pelajaran, pelajar tersebut di minta untuk
membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan
"Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini. Walaupun ada beberapa
ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi:

1) Piramida Besar di Mesir
2) Taj Mahal
3) Grand Canyon
4) Panama Canal
5) Empire State Building
6) St. Peter's Basilica
7) Tembok China

    Ketika mengumpulkan daftar pilihan,
sang guru memperhatikan seorang pelajar,
seorang gadis yang pendiam,
yang belum mengumpulkan kertas kerjanya.
Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia
mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

    Gadis pendiam itu menjawab,
"Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya."
Sang guru berkata,
"Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki,
dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."

    Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca,
"Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah:

1) Bisa menyentuh
2) Bisa mencicip
3) Bisa melihat
4) Bisa mendengar

    Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan...

5) Bisa merasakan
6) Bisa tertawa
7) Dan bisa mencintai

    Ruang kelas tersebut sunyi seketika.
Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada
eksploitasi manusia dan menyebutnya "keajaiban"
sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan
lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai "biasa".
Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal
yang betul-betul ajaib dalam kehidupan Anda.

    Anak derhaka - Kiriman Hajijah Malaysia.

    Hairan saya melihat beberapa orang kampung berkumpul di kedai
pada tengah hari itu. I September 1994. Serius mereka berbual hingga dahi
berkerut-kerut. Lepas seorang bercerita yang lain menggeleng -gelengkan kepala.
Pasti ada sesuatu yang 'besar' sedang mereka bincangkan,kata
saya di dalam hati . Setelah injin motosikal di matikan, saya berjalanke arah mereka.
" Bincang apa tu ? Serius aku tengok," saya menyapa.
" Haaa...Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak boleh
keluar dari kubur emak dia ?" kata Jaimi, kawan saya.
" Budak perempuan ? Tak boleh keluar dari kubur ? Aku tak faham
bah," jawab saya. Memang saya tak faham kerana lain benar apa yang mereka
katakan itu.
" Macam ni," kata Jaimi, lalu menyambung, " di kubur kat kampung
Batu 10 tu, ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia, tapi
lepas itu dia pula yang tak boleh keluar dari kubur tu. Sekarang ni orang
tengah nak keluarkan dia...tapi belum boleh lagi ".
" Kenapa jadi macam tu ? " saya bertanya supaya Jaimi bercerita
lebih mendalam. Patutlah serius sangat mereka berbual..
Jaimi memulakan ceritanya. Kata beliau, memandangkan semalam
adalah hari kelepasan semperna Hari Kebangsaan, budak perempaun berumur
belasan tahun itu meminta wang daripada ibunya untuk keluar bersama
kawan-kawan ke Bandar Sandakan. Bagaimana pun, ibunya yang sudah berusia dan
sakit pula enggan memberikannya wang.
" Bukannya banyak, RM 20 aja mak !" gadis itu membentak.
" Mana emak ada duit. Mintak dengan bapa kamu," jawab ibunya,
perlahan. Sambil itu dia mengurut kakinya yang sengal. Sudah bertahun-tahun
dia mengidap darah tinggi, lemah jantung dan kencing manis.
" Maaak...kawan-kawan semuanya keluar. Saya pun nak jalan jugak,
kata gadis itu.
" Yalah, mak tau...tapi mak tak ada duit," balas ibunya.
" RM 20 aja !" si gadis berkata.
" Tak ada ," jawab ibunya.
" Emak memang kedekut !" si gadis mula mengeluarkan kata-kata keras.
" Bukan macam tu ta..." belum pun habis ibunya menerangkan,
gadis tersebut menyanggah, katanya, " Ahhh...sudahlah emak ! Saya tak mau dengar ! "
" Kalau emak ada du... " ibunya menyambung , tapi belum pun
habis kata-katanya, si gadis memintas lagi, katanya ; " kalau abang,
boleh,
tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada !"
Serentak dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan
menolaknya ke pintu. Si ibu jatuh ke lantai . " Saida..Sai.. dddaaa.."
katanya perlahan sambil mengurut dada. Wajahnya berkerut menahan sakit.
Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai
Dia sebaliknya masuk ke bilik dan berkurung tanda protes. Di dalam bilik,
di balingnya bantal dan selimut ke dinding. Dan Sementara diluar, suasana sunyi sepi.
Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar.
Alangkah terkejutnya dia kerana ibunya tidak bergerak lagi. Bila di pegang ke
pergelangan tangan dan bawah leher , tidak ada lagi nadi berdenyut.
Si gadis panik. Dia meraung dan menangis memanggil ibunya, tapi
tidak bersahut. Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu. Melaui
jiran-jiran, kematian wanita itu di beritahu kepada bapa gadis yang bekerja di luar.
Jaimi menyambung ceritanya ; " Mak cik tu di bawa ke kubur
pukul 12.30 tadi. Pada mulanya tak ada apa-apa yang pelik, tapi bila mayatnya
nak di masukkan ke dalam kubur, ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak
terdaya nak masukkannya ke dalam kubur. Suaminya sendiri pun tak dapat Bantu

    " Tapi bila budak perempuan tu tolong, mayat ibunya
serta-merta jadi ringan. Dia seorang pun boleh angkat dan letak mayat ibunya di tepi
kubur."
Kemudian gadis berkenaan masuk ke dalam kubur untuk menyambut
jenazah ibunya. Sekali lagi beramai-ramai penduduk kampung mengangkat
mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis berkenaan.
Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke
dalam lahad. Namun apabila dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut,
tiba-tiba kakinya tidak boleh di angkat . Ia seperti di paku ke tanah.
Si gadis mula cemas.
" Kenapa ni ayah ?" kata si gadis. Wajahnya serta-merta pucat lesi.
" Apa pasal," Si ayah bertanya.
" Kaki Saida ni..tak boleh angkat !" balas si gadis yang kian cemas.
Orang ramai yang berada di sekeliling kubur mula riuh.
Seorang
demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang berlaku.
" Ayah, tarik tangan saya ni. Kaki saya terlekat... tak
boleh nak naik," gadis tersebut menghulurkan tangan ke arah bapanya.
Si bapa menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal. Kaki gadis
tersebut melekat kuat ke tanah. Beberapa orang lagi di panggil untuk
menariknya keluar, juga tidak berhasil.
" Ayah...kenapa ni ?? !! Tolonglah Saida , ayah.." si gadis
menangis memandang ayah dan adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kubur.
Semakin ramai orang berpusu ke pinggir kubur. Mereka cuba
menariknya beramai-ramai namun sudah ketentuan Allah, kaki si gadis
tetap terpasak di tanah. Tangisannya bertambah kuat.
" Tolong saya ayah, tolong saya...kenapa jadi macam ni ayah ?
" kata si gadis sambil meratap.
" Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal . Sekarang
,
ayah pun tak tau nak buat macam mana," jawab si ayah selepas gagal
mengeluarkan anaknya itu.
Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi
tidak berganjak walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.
" Emak...ampunkan Saida emak, ampunkan Saida..." gadis itu
menangis . Sambil itu di peluk dan di cium jenazah kiblat. Air matanya sudah
tidak boleh di empang lagi.
" Maafkan Saida emak, maafkan , Saida bersalah, Saida menyesal..
Saida menyesal.. Ampunkan Saida emak," dia menangis lagi sambil memeluk
jenazah ibunya yang telah kaku.
Kemudian gadis itu menghulurkan lagi tangannya supaya boleh
ditarik keluar. Beramai-ramai tangannya supaya boleh di tarik keluar.
Beramai-ramai orang cuba mengeluarkan nya namun kecewa. Apabila terlalu
lama
mencuba tetapi gagal, imam membuat keputusan bahawa kubur tersebut perlu
di kambus.
" Kita kambus sedikit saja, sampai mayat ibunya tak dapat
di lihat lagi. Kita tak boleh biarkan mayatnya macam tu aja... kalau hujan
macam mana ? " kata imam kepada bapa gadis berkenaan.
" Habis anak saya ?" tanya si bapa.
" Kita akan terus cuba tarik dia keluar. Kita buat dua-dua
sekali, mayat isteri awak di sempurnakan, anak awak kita selamatkan," balas imam.
Lelaki berkenaan bersetuju. Lalu seperti yang di putuskan,
upacara pengebumian terpaksa di teruskan sehingga selesai, termasuk
talkinnya. Bagaimana pun kubur di kambus separas lutut gadis saja, cukup
untuk menimbus keseluruhan jenazah ibunya.
Yang menyedihkan , ketika itu si gadis masih di dalam kubur.
Bila talking di baca, dia menangis dan meraung kesedihan. Sambil itu dia
meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata. Selesai upacara
itu, orang ramai berusaha lagi menariknya keluar. Tapi tidak berhasil.
" Bila dah lama sangat, aku balik kejap untuk makan. Dah lapar
sangat. Lepas itulah aku singgah ke kedai ni. Lepas ni aku nak ke kubur lagi
Nak tengok apa yang terjadi," kata Jaimi.
" Aku pun nak pergilah," kata saya. Lalu kami semua menunggang
motosikal masing-masing menuju ke kubur.
Kami lihat orang ramai sudah berpusu-pusu di sana. Beberapa buah
kereta polis juga kelihatan di situ. Saya terus berjalan pantas menuju kubur
yang di maksudkan dan berusaha menyusup ke celah-celah orang ramai yang
sedang bersesak-sesak.
Setelah penat berusaha, akhirnya saya berjaya sampai ke
barisan paling hadapan. Malangnya saya tidak dapat melihat gadis tersebut kerana
di depan kami telah di buat kepungan tali. Kubur itu pula beberapa puluh
meter daripada kami dan terlindung oleh kubur serta pokok-pokok rimbun. Di
dalam kepungan itu, anggota-anggota polis berkawal dengan senjata
masing-masing.
Nasib saya memang baik hari itu. Dua tiga orang daripada polis
berkenaan adalah kenalan saya.
" Pssstt...Raie...Raie..Psstt," saya memanggil , Raie yang
perasan saya memanggilnya mengangkat tangan.
" Boleh aku tengok budak tu ?" saya bertanya sebaik saja
dia datang ke arah saya.
" Mana boleh . Keluarga dia aja yang boleh," jawabnya
perlahan-lahan seperti berbisik. Sambil itu dia menjeling ke kiri dan kanan
khuatir ada orang yang tahu.
" Sekejap aja. Bolehlah..."saya memujuk.
Alhamdulillah, setelah puas di pujuk dia mengalah. Tana
berlengah, saya mengusup perlahan-lahan dan berjalan beriringan dengan
Raie
seolah-olah tidak melakukan apa-apa kesalahan. Namun demikian dada saya
berdebar kencang. Pertama ,risau, takut di halau keluar. Kedua ; tidak sabar
hendak melihat apa yang sedang berlaku kepada gadis berkenaan.
Selepas meredah kubur-kubur yang bertebaran, akhirnya saya
sampai ke pusara yang di maksudkan. Di pinggir kubur itu berdiri dua
tiga orang polis memerhatikan kedatangan saya.
Raie mendekati mereka dan berbisik-bisik. Mungkin dia merayu
supaya saya tidak di halau. Alhamdulillah, saya lihat seorang polis yang
berpangkat mengangguk-angguk. Raie terus memanggil saya lalu
memuncungkan bibirnya ke arah sebuah kubur.
Bila di jenguk kedalam , dada saya serta-merta terasa sebak.
Saya lihat gadis berkenaan sedang duduk di atas tanah kubur sambil
menangis teresak-esak. Sebentar kemudian dia memegang tanah berhampiran lahad dan
merintih ; "Emak...ampunkanlah Saida, Saida sedar, saida derhaka pada
emak, Saida menyesal, Saida menyesal.."
Selepas mengesat air jernih yang terus berjejeran daripada
mata yang bengkak, gadis tersebut menangis lagi memohon keampunan daripada
arwah
ibunya. " Emak...lepaskanlah kaki saya ni. Ampunkan saya, lepaskan
saya,"
Di tarik-tariknya kaki yang melekat di tanah namun tidak berhasil juga.
Saya lihat bapa dan adik-beradiknya menangis, di pinggir kubur.
Nyata mereka sendiri tidak tahu apa lagi yang hendak di buat untuk
menyelamatkan gadis berkenaan.
" Sudahlah tu Saida...makanlah sikit nak ," rayu bapanya sambil
menghulurkan sepinggan nasi juga segelas air. Si gadis tersebut langsung
tidak mengendahkan. Malah memandang ke atas pun tidak. Dia sebaliknya
terus meratap meminta ampun daripada arwah ibunya.
Hampir menitis air mata saya melihat Saida . Tidak saya sangka,
cerita datuk dan nenek tentang anak derhaka kini beralaku di depan mata.
Begitu besar kekuasaan Allah. Memang betullah kata para
alim ulama, dosa menderhakai ibi bapa akan di balas 'tunai'.
Malangnya saya tidak dapat lama di sana. Cuma 10 - 15 minit
saja kerana Raie memberitahu, pegawainya mahu saya berbuat demikian. Mahu
tidak mahu , terpaksalah saya meninggalkan kubur tersebut. Sambil berjalan
kedengaran lagi Saida menangis dan meratap " Ampunkan saya emak,
ampunkan
saya saya, Ya Allah, lepaskanlah kaki ku ini, aku bertaubat, aku
insaf..."
Lantas saya menoleh buat kali terakhir. Saya lihat bapa Saida
dan adik beradiknya sedang menarik tangan gadis itu untuk di bawa keluar,
tapi seperti tadi, tidak berhasil. Seorang polis saya lihat mengesatkan air
matanya.
Semakin lama semakin ramai orang berhimpun mengelilingi
perkuburan itu. Beberapa kereta polis datang dan anggotanya berkawal di
dalam kepungan lengkap dengan senjata masing-masing. Wartawan dan
jurugambar
berkerumun datang untuk membuat liputan tetapi tidak di benarkan .
Mereka merayu bermacam-macam cara, namun demi kebaikan keluarga gadis ,
permintaan itu terpaksa di tolak.
Matahari kian terbenam, akhirnya tenggelam dan malam merangkak
tiba. Saida masih begitu. Kaki terlekat di dalam kubur ibunya sementara
dia tidak henti-henti meratap meminta keampunan. Saya pulang ke rumah dan malam
itu tidak dapat melelapkan mata. Suara tangisannya yang saya
terngiang-ngiang di telinga.
Saya di beritahu ,sejak siang, tidak ada secebis makanan mahupun
minuman masuk ke tekaknya. Seleranya sudah mati. Bapa dan adik beradiknya
masih tetap di sisi kubur membaca al-Quran, Yassin dan berdoa. Namun telah
di sebutkan Allah, menderhaka terhadap ibu bapa adalah dosa yang sangat
besar. Saida tetap tidak dapat di keluarkan.
Embun mula menitis. Saida kesejukan pula. Dengan selimut yang di
beri oleh bapanya dia berkelubung. Namun dia tidak dapat tidur. Saida
menangis dan merayu kepada Allah supaya mengampunkan dosanya.
Begitulah yang berlaku keesokannya. Orang ramai pula tidak susut
mengerumuni perkuburan itu. Walaupun tidak dapat melihat gadis berkenaan
tapi mereka puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengar orang-orang
bercerita.
Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida
meninggal dunia. Mungkin kerana terlalu lemah dan tidak tahan di bakar
kepanasan matahari pada waktu siang dan kesejukan di malam hari. Mungkin
juga kerana tidak makan dan minum. Atau mungkin juga kerana terlalu sedih
sangat dengan apa yang di lakukannya.
Allah Maha Agung...sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir,
barulah tubuhnya dapat di keluarkan. Mayat gadis itu kemudian di
sempurnakan seperti mayat-mayat lain.
Kuburnya kini di penuhi lalang. Di bawah redup daun kelapa yang
melambai-lambai, tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang derhaka.