> > > eramuslim - Seorang pakar dalam sebuah seminar, menyebutkan bahwa mata
> > adalah jendela jiwa kepada dunia. Mata menghantarkan pemiliknya untuk
> > menikmati sekian juta pemandangan semesta raya. Matalah yang menyantap
> > kuning mentari yang begitu syahdu mengelupasi membran kepekatan sisa
> malam.
> > Jutaan manik-manik bintang sungguh sempurna di layar biru raksasa,
> > mengenyangkan mata pada malam hari. Dengan mata, seorang suami mampu
> > memilihkan warna baju baru untuk menggembirakan istri tercinta. Untuk
> > menerka apakah hari akan hujan, seseorang mengarahkan mata ke atas, warna
> > langit kelabu atau biru cemerlang.
> > >
> > > Memiliki mata sehat memang menyenangkan. Mata yang berfungsi secara
> > sempurna, melihat dengan baik dan juga bisa melotot. Seorang teman dekat
> > sempat iri karena saya tidak berkaca mata, meskipun selalu berada di depan
> > layar komputer. Dia harus mengganti kaca mata ketika minusnya bertambah,
> > belum lagi anjuran mamanya agar dia selalu menuntaskan dahaganya dengan
> > juice wortel tak peduli harus pencet hidung plus ekspresi menyedihkan
> ketika
> > meminumnya. Obat suplemen untuk kesehatan mata pun tak lupa dikonsumsinya.
> > Demi sepasang mata yang sehat.
> > >
> > > Tetapi, apakah mata sehat saja sudah cukup?
> > > Dalam sebuah buku tafsir, ternyata sehat saja masih jauh dari cukup.
> > Selain sehat, mata juga harus afiat. Betapa sering kita mendengar kata
> yang
> > satu ini bukan? Ya kata yang kita sertakan setelah sehat ketika seseorang
> > menanyakan kabar kita.
> > >
> > > Dalam kamus bahasa Arab, kata afiat diartikan sebagai perlindungan Allah
> > untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Afiat juga dapat
> > diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan
> > penciptaannya.
> > >
> > > Jadi mata yang sehat adalah ketika mata dengan baik dapat melihat maupun
> > membaca. Sedangkan mata yang afiat adalah mata yang dapat melihat dan
> > membaca segala sesuatu yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari
> > segala sesuatu yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari
> > penciptaan mata.
> > >
> > > Pernah suatu waktu, saya berada dalam ruangan mungil bersekat triplek
> > putih, di sebuah warung internet. Sedang asik-asiknya browsing,
tiba-tiba
> > saja suara-suara aneh terdengar persis dari bilik sebelah, laki-laki dan
> > perempuan. Tadinya saya tidak ambil pusing, tapi lama kelamaan
suara-suara
> > itu jadi tambah menyeramkan, belum lagi "jedak-jeduk" ke dinding triplek
> > tempat saya bersandar. Apakah gerangan yang mereka lakukan?
> > >
> > > Saya tidak mau memikirkannya lebih jauh. Tapi saya jadi bersu'udzan
> bahwa
> > mereka sedang mengakses situs yang membuat dengkul keropos. Daripada tidak
> > nyaman terus-terusan, akhirnya saya gedor juga dinding penyekat cukup
> keras,
> > ah tawakkal saja kalo mereka terusik dan mendatangi saya. Tetapi setelah
> > menunggu agak lama, kekhawatiran itu tidak terjadi. Ffuihh ... Legaaa
....
> > Saya yakin mata mereka sehat, saya melihat keduanya tidak buta dan tidak
> > berkacamata, namun sayang mata mereka tidak afiat.
> > >
> > > Dilain kesempatan, "Mbak pinjam, speaker komputernya dong" pinta adik
> > manis penghuni kamar bawah suatu waktu. Speaker sudah digenggamnya,
> > sumringah dia menuruni tangga. "Mbak nggak curiga buat apa?" tanya seorang
> > dibawah. Saya menajamkan pendengaran. Suara pintu kamar ditutup,terdengar.
> > Kos-an sepi. Tak lama waktu pun berselang.
> > >
> > > "Terima kasih ya mbak," adik itu lagi. Kali ini wajahnya aneh, sedikit
> > shock sepertinya. "Lho udah dek? kalo boleh tau, buat apa sih?" tanya saya
> > hati-hati. "Ng... nng... nonton mbak, tapi speakernya nggak jadi
dipake,"
> > terbata dia menjawab. "Film bisu dong, emang enak nontonnya?" Dia
> tersenyum
> > kecut, dan merebahkan diri di tempat tidur. Nafas beratnya keluar paksa
> satu
> > persatu. Saya yang lagi membaca, menoleh. "Mbak, saya sudah berdosa"
> > lirihnya, matanya dipejamkan kuat-kuat. "Mbak jangan bilang yang lain yah,
> > please, sumpah yah mbak" tambahnya memelas. Dia diam lagi. "Barusan kami
> > nonton VCD Itenas, saya nggak tau sebelumnya, mbak-mbak itu cuma bilang mau
> > nonton, gitu aja, kalo saya tau saya bisa cari alasan komputernya rusak,"
> > paparnya. Sebentar kemudian air matanya keluar. Saya beristighfar
> > keras-keras.
> > >
> > > Kesempatan selanjutnya saya menatap pemilik mata-mata itu. Sehat, tapi
> > sekali lagi sayang tidak afiat.
> > >
> > > Khusus untuk anda-anda yang mempunyai banyak kesempatan mengakses
> > internet, tentunya harus hati-hati agar mata tidak saja selalu sehat tapi
> > juga afiat. Terlalu banyak halaman-halaman "menyeramkan" yang dengan gampang
> > bisa dikunjungi. Apalagi situs-situs super laknat bertebaran dimana-mana.
> > Tinggal mengetikkan sebuah alamat kita dengan kilat pergi kesana, tak
> peduli
> > rentang jarak. Bahkan ketika seseorang tidak faham alamatnya, sebuah
> > fasilitas search engine menjadikan 'misi' tadi menjadi begitu mudah. Pernah
> > dalam sweeping jaringan komputer sebuah perusahaan yang terhubung ke
> > fasilitas internet, banyak bapak-bapak yang keberatan komputernya
> > dibersihkan tetapi akhirnya menyerah juga dengan tersenyum malu-malu,
> > gambar-gambar porno yang disimpannya, itulah alasannya.
> > >
> > > Membuat mata sehat relatif lebih mudah dibanding menjadikan mata yang
> > afiat. Padahal ketika mata tidak afiat dalam arti ketika mata tidak
> > difungsikan sesuai dengan harapan pencipta-Nya maka bisa-bisa menjadikan
> > pemiliknya hina dan merugi, sesuai firman Allah tentang sifat para
> penghuni
> > neraka "Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan
dari
> > Jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk
> > memahami (Ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak
> > dipergunakan untuk melihat tanda-tanda (kekuasaan Allah) dan mereka
> > mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat
> > Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
> > Mereka itulah orang-orang yang lalai". (Al-A'raf :179).
> > >
> > > Saudaraku, setan bin iblis beserta kaki tangannya, tak pernah lelah
> > berdiri disamping kita bahkan mengalir di setiap pori-pori. Ketika mata kita
> > seringkali tak terarah, cepatlah beristighfar, memohon ampunan kepada Allah.
> > Jangan menganggapnya remeh, karena dari mata lah semuanya bisa bermula.
>Anas
> > ra berkata, "Kalian melakukan dosa mata seolah-olah dosa itu sehalus
helai
> > rambut. Sedangkan kami dimasa Rasulullah telah menganggapnya sebagai
dosa
> > besar, sedang dosa besar itu sungguh membinasakan".
> > >
> > > Apakah setiap kita ingin binasa? Ibnu Qayyim menuliskan, "Dosa membuat
> > berhentinya ilmu. Hati menjadi terhimpit, kehidupan sulit, badan menjadi
> > lemah dan ketaatan kepada Allah pun menurun. Bahkan barokahnya tercabut,
> > sebaliknya keburukan bermunculan, dosa-dosa yang lainpun menjelang lalu
> > menjadi manusia yang tak peduli pada masyarakat dan lingkungan.
> > Binatang-binatang mengutuknya, kehinaan menjadi bajunya, hatinya keras dan
> > doanya tertolak. Kedurhakaannya meliputi bumi dan lautan. Hilang segala
> > rasa, musnah semua kenikmatan. Jiwanya diliputi ketakutan, syaitan-syaitan
> > mudah menjerat, dan akhirnya semua miliknya binasa".
> > >
> > > Saudaraku, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, sebaik-baik
> > manusia adalah bukan yang tidak pernah salah, tetapi ketika dia salah dan
> > menyadarinya, segera dia bertaubat dengan taubat sebenar-benarnya Meskipun
> > susah sungguh.
> > >
> > > Tak terhitung manusia menjauh dari agama Allah, maksiat terhidangkan
> > dimana-mana, tayangan televisi, majalah dan tabloid porno, bahkan
internet
> > lebih canggih lagi. Walau begitu, Allah maha Kasih dan Sayang, Dia tidak
> > akan menghentikan kemilau hidayah kepada umatnya. Jemputlah hidayah itu,
> > dengan membekali diri oleh pemahaman agama dan ilmu. Sungguh, rengkuhlah
> > hidayah dengan menghadiri banyak majelis dzikir, menafkahi keluarga
dengan
> > cara yang halal, mencari teman yang berakhlak baik, menyantuni anak yatim,
> > berbakti kepada orangtua.
> > >
> > > Boleh jadi sekian waktu kita terjerembab di lembah kehinaan, berkubang
> > dosa dan kemaksiatan. Boleh jadi kitalah si pemilik mata-mata yang tidak
> > afiat itu. Tetapi, tidak usah berlama-lama untuk segera bertaubat.
> > Saudaraku, ketika niat untuk memperbaiki sudah bulat, seringkali hati
> terasa
> > gamang, gundah... adakah harapan bisa membersihkan diri sementara dosa
> > terasa membumbung? Kita ingin taubat, tetapi terasa tak mungkin.
> > >
> > > Jangan takut saudaraku, Allah berfirman dalam hadist qudsi, "Wahai anak
> > Adam jika kamu meninta kepada-Ku dan mengharap ampunan, niscaya Aku ampuni
> > semua dosa-dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, jika
> > dosa-dosamu mencapai ujung langit yang paling tinggi kemudian kamu meminta
> > ampun kepada Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak
> > Adam jika kamu datang kepada Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian
> > menemuiku dengan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu pun, nicaya Aku akan
> > menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi pula". (HR Tirmidzi).
> > >
> > > Betapa Allah maha penerima taubat. Sungguh berbahagia mempunyai mata sehat
> > wal afiat. Saya sampaikan dengan tulus, 'selamat kepada anda yangmemiliki
> > keduanya'. "Allahumma Afinii fi bashorii...".
artikel
di sini saya berikan artikel-artikel penting buat anda semua. mudah-mudahan bisa memudahkan anda dalam mencari artikel yang anda cari. artikel yang selalu kita renungkan
Sabtu, 07 Agustus 2010
mbok narti
Mbok Narti
> > > >
> > > > Mbok Narti
> > > > Begitu kami sekeluarga memanggilnya. Usia-nya sudah 60 tahun namun
> > > > kegagahan dan kegesitannya justru membuat sosoknya terlihat 10 tahun
> > > > lebih muda. Mbok Narti baru bekerja beberapa minggu di tempat kami.
> > > > Seorang tetangga membawanya ke rumah ibu ketika mengetahui bahwakami
> > > > membutuhkan asisten di rumah kami. Ayah yang sudah sakit dalam 8
> > > > bulan terakhir tentu menyita waktu ibu untuk mengurusnya. Alhasil
> > > > pekerjaan rumah tangga sedikit 'keteteran' karena kami bekerja
> > > > seharian di luar rumah.
> > > >
> > > > Alhamdulillah, kami dapat bernafas lega ketika mendapatkan bantuan
> > > > mbok Narti ini. Setiap ba'da shubuh dia sudah rajin bekerja dari
> > > > mencuci, memasak dan menyetrika. Mbok Narti tidak pernah mengijinkan
> > > > ibu untuk membantunya, alih-alih mbok Narti menyarankan ibu untuk
> > > > konsentrasi menyiapkan dan mengurus keperluan ayah yang sedangsakit.
> > > >
> > > > Mbok Narti hidup sebatang-kara di dunia ini, begitu informasi yang
> > > > kami dapatkan lewat tentangga. Dia tidak pernah menceritakan asal-
> > > > usul dirinya dengan jelas. Mbok Narti, sosok baru di rumah kami ini
> > > > langsung menjadi idola. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya.
> > > > Pekerjaan dia selesaikan dengan giat dan gesit. Setiap malamnyatidak
> > > > pernah dilewatkan mbok Narti dengan bersimpuh di hadapan SangKhaliq.
> > > > Selalu khusyuk dalam sujud dan do'a-nya.
> > > >
> > > > Dan suatu hari, setelah hampir tiga minggu mbok Narti bekerja di
> > > > rumah kami. Tiba-tiba kami kedatangan seorang tamu. Seorang dokter
> > > > dari Jakarta. Awalnya kami agak terkejut dengan maksud dan tujuan
> > > > dokter tersebut untuk menjemput mbok Narti. Astaghfirullah, kami
> > > > sempat bersu'udzon tentang sesuatu hal yang buruk yang pernahterjadi
> > > > kepada si mbok ketika bekerja di Jakarta dahulu. Namun, dokter yang
> > > > ternyata bekas majikan si mbok tersebut justru memohon maaf kepada
> > > > kami untuk menjemput mbok Narti karena si mbok dirindukan oleh
> > > > anaknya. Rupanya putera si dokter meminta ayahnya untuk datang ke
> > > > rumah kami menjemput mbok Narti. Ah, rupanya ada yang merindukan si
> > > > mbok di sana.
> > > >
> > > > Si dokter itupun bercerita bahwa anak bungsu-nya tidak mau makan
> > > > sejak mbok Narti pulang ke kampungnya. Persis seperti di sinetron-
> > > > sinetron memang, namun itulah fakta yang terjadi. Entah apa yang
> > > > membuat mbok Narti berhenti bekerja dari rumah si dokter tersebut
> > > > sebelumnya. Namun dari kehidupan, tindak-tanduk mbok Narti yang baru
> > > > beberapa minggu di rumah kami, mbok Narti adalah sosok yang sangat
> > > > baik dan mendekati sempurna sebagai asisten keluarga kami.
> > > >
> > > > Akhirnya kami pun harus melepas mbok Narti dengan berat hati. Walau
> > > > baru beberapa minggu bekerja di rumah kami, namun kesan yang
> > > > ditinggalkan begitu mendalam. Terus terang, kami tidak pernah
> > > > mendapatkan asisten rumah tangga seperti sosok mbok Narti ini.
> > > >
> > > > Satu minggu berlalu sejak kepergian mbok Narti dan tetanga kami yang
> > > > pernah mengantarkan si mbok datang untuk mengambil uang gaji mbok
> > > > Narti yang belum sempat kami bayarkan. Memang ketika mbok Narti
> > > > dijemput dahulu, dia berpesan agar gajinya dititipkan saja ke
> > > > tetangga kami itu.
> > > >
> > > > Satu hal yang sangat mengejutkan kami adalah ketika si tetangga
> > > > bercerita bahwa uang gajinya mbok Narti akan diberikan kepadaYayasan
> > > > yatim piatu di kampung mbok Narti. Rupanya selama ini diamenyerahkan
> > > > seluruh penghasilannya sebagai asisten kepada si tetangga untuk
> > > > diberikan kepada Yayasan tersebut setiap bulannya. Bagi si mbok,
> > > > dengan bekerja di suatu tempat, mendapat jaminan tempat berteduh,
> > > > mendapat makan, itu sudah lebih dari cukup buat dia. Sedang
> > > > penghasilannya (gajinya) dia anggap sebagai rejeki anak-anak yatim
> > > > itu.
> > > >
> > > > Subhanallaah... dalam asma Allah dan hati yang bergetar penuh haru,
> > > > ternyata baru kami sadari bahwa kami ini bukan apa-apa dibandingkan
> > > > dengan mbok Narti. Setiap saat kami hanya memikirkan diri kami
> > > > sendiri. Setiap saat kami hanya memikirkan makan apa besok, membeli
> > > > baju dan kosmetika, rencana liburan dan hal lain yang tak bukan
hanya
> > > > untuk keperluan diri kami sendiri. Di sisi lain mbok Narti
> > > > yang 'cuma' sebagai asisten rumah tangga yang mungkin gajinya tidak
> > > > seberapa untuk ukuran orang yang mampu, justru dia sumbangkan
> > > > semuanya -semuanya!- kepada orang-orang yang tidak mampu.
> > > >
> > > > Ah, lewat mbok Narti kami seakan di'sentil' Allah agar cepat-cepat
> > > > membuka mata dan hati kami yang selama ini tertutup, bahwa hidup ini
> > > > bukan hanya untuk hari ini dan esok. Bahwa hidup ini bukan hanya
> > > > untuk sekedar mencari makan dan belanja pakaian. Namun, hidup ini
> > > > justru menjadi lebih berarti ketika kita dapat membagi kebahagiaan
> > > > kita kepada orang lain.
> > > >
> > > > Mbok Narti,
> > > > Sungguh teladanmu melorotkan tulang-tulang kesombongan kami...
> > > > Sungguh kerendah-hatianmu meruntuhkan keangkuhan kami...
> > > > Sungguh kedalaman sujud-sujud malammu, menggetarkan sukma kami...
> > > > Sungguh kedermawananmu membuat kami malu di hadapan Tuhan kami,
> > > > Astaghfirullaah.
> > > > Sungguh, kami merindukanmu mbok.
> > > >
> > > > Mbok Narti
> > > > Begitu kami sekeluarga memanggilnya. Usia-nya sudah 60 tahun namun
> > > > kegagahan dan kegesitannya justru membuat sosoknya terlihat 10 tahun
> > > > lebih muda. Mbok Narti baru bekerja beberapa minggu di tempat kami.
> > > > Seorang tetangga membawanya ke rumah ibu ketika mengetahui bahwakami
> > > > membutuhkan asisten di rumah kami. Ayah yang sudah sakit dalam 8
> > > > bulan terakhir tentu menyita waktu ibu untuk mengurusnya. Alhasil
> > > > pekerjaan rumah tangga sedikit 'keteteran' karena kami bekerja
> > > > seharian di luar rumah.
> > > >
> > > > Alhamdulillah, kami dapat bernafas lega ketika mendapatkan bantuan
> > > > mbok Narti ini. Setiap ba'da shubuh dia sudah rajin bekerja dari
> > > > mencuci, memasak dan menyetrika. Mbok Narti tidak pernah mengijinkan
> > > > ibu untuk membantunya, alih-alih mbok Narti menyarankan ibu untuk
> > > > konsentrasi menyiapkan dan mengurus keperluan ayah yang sedangsakit.
> > > >
> > > > Mbok Narti hidup sebatang-kara di dunia ini, begitu informasi yang
> > > > kami dapatkan lewat tentangga. Dia tidak pernah menceritakan asal-
> > > > usul dirinya dengan jelas. Mbok Narti, sosok baru di rumah kami ini
> > > > langsung menjadi idola. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya.
> > > > Pekerjaan dia selesaikan dengan giat dan gesit. Setiap malamnyatidak
> > > > pernah dilewatkan mbok Narti dengan bersimpuh di hadapan SangKhaliq.
> > > > Selalu khusyuk dalam sujud dan do'a-nya.
> > > >
> > > > Dan suatu hari, setelah hampir tiga minggu mbok Narti bekerja di
> > > > rumah kami. Tiba-tiba kami kedatangan seorang tamu. Seorang dokter
> > > > dari Jakarta. Awalnya kami agak terkejut dengan maksud dan tujuan
> > > > dokter tersebut untuk menjemput mbok Narti. Astaghfirullah, kami
> > > > sempat bersu'udzon tentang sesuatu hal yang buruk yang pernahterjadi
> > > > kepada si mbok ketika bekerja di Jakarta dahulu. Namun, dokter yang
> > > > ternyata bekas majikan si mbok tersebut justru memohon maaf kepada
> > > > kami untuk menjemput mbok Narti karena si mbok dirindukan oleh
> > > > anaknya. Rupanya putera si dokter meminta ayahnya untuk datang ke
> > > > rumah kami menjemput mbok Narti. Ah, rupanya ada yang merindukan si
> > > > mbok di sana.
> > > >
> > > > Si dokter itupun bercerita bahwa anak bungsu-nya tidak mau makan
> > > > sejak mbok Narti pulang ke kampungnya. Persis seperti di sinetron-
> > > > sinetron memang, namun itulah fakta yang terjadi. Entah apa yang
> > > > membuat mbok Narti berhenti bekerja dari rumah si dokter tersebut
> > > > sebelumnya. Namun dari kehidupan, tindak-tanduk mbok Narti yang baru
> > > > beberapa minggu di rumah kami, mbok Narti adalah sosok yang sangat
> > > > baik dan mendekati sempurna sebagai asisten keluarga kami.
> > > >
> > > > Akhirnya kami pun harus melepas mbok Narti dengan berat hati. Walau
> > > > baru beberapa minggu bekerja di rumah kami, namun kesan yang
> > > > ditinggalkan begitu mendalam. Terus terang, kami tidak pernah
> > > > mendapatkan asisten rumah tangga seperti sosok mbok Narti ini.
> > > >
> > > > Satu minggu berlalu sejak kepergian mbok Narti dan tetanga kami yang
> > > > pernah mengantarkan si mbok datang untuk mengambil uang gaji mbok
> > > > Narti yang belum sempat kami bayarkan. Memang ketika mbok Narti
> > > > dijemput dahulu, dia berpesan agar gajinya dititipkan saja ke
> > > > tetangga kami itu.
> > > >
> > > > Satu hal yang sangat mengejutkan kami adalah ketika si tetangga
> > > > bercerita bahwa uang gajinya mbok Narti akan diberikan kepadaYayasan
> > > > yatim piatu di kampung mbok Narti. Rupanya selama ini diamenyerahkan
> > > > seluruh penghasilannya sebagai asisten kepada si tetangga untuk
> > > > diberikan kepada Yayasan tersebut setiap bulannya. Bagi si mbok,
> > > > dengan bekerja di suatu tempat, mendapat jaminan tempat berteduh,
> > > > mendapat makan, itu sudah lebih dari cukup buat dia. Sedang
> > > > penghasilannya (gajinya) dia anggap sebagai rejeki anak-anak yatim
> > > > itu.
> > > >
> > > > Subhanallaah... dalam asma Allah dan hati yang bergetar penuh haru,
> > > > ternyata baru kami sadari bahwa kami ini bukan apa-apa dibandingkan
> > > > dengan mbok Narti. Setiap saat kami hanya memikirkan diri kami
> > > > sendiri. Setiap saat kami hanya memikirkan makan apa besok, membeli
> > > > baju dan kosmetika, rencana liburan dan hal lain yang tak bukan
hanya
> > > > untuk keperluan diri kami sendiri. Di sisi lain mbok Narti
> > > > yang 'cuma' sebagai asisten rumah tangga yang mungkin gajinya tidak
> > > > seberapa untuk ukuran orang yang mampu, justru dia sumbangkan
> > > > semuanya -semuanya!- kepada orang-orang yang tidak mampu.
> > > >
> > > > Ah, lewat mbok Narti kami seakan di'sentil' Allah agar cepat-cepat
> > > > membuka mata dan hati kami yang selama ini tertutup, bahwa hidup ini
> > > > bukan hanya untuk hari ini dan esok. Bahwa hidup ini bukan hanya
> > > > untuk sekedar mencari makan dan belanja pakaian. Namun, hidup ini
> > > > justru menjadi lebih berarti ketika kita dapat membagi kebahagiaan
> > > > kita kepada orang lain.
> > > >
> > > > Mbok Narti,
> > > > Sungguh teladanmu melorotkan tulang-tulang kesombongan kami...
> > > > Sungguh kerendah-hatianmu meruntuhkan keangkuhan kami...
> > > > Sungguh kedalaman sujud-sujud malammu, menggetarkan sukma kami...
> > > > Sungguh kedermawananmu membuat kami malu di hadapan Tuhan kami,
> > > > Astaghfirullaah.
> > > > Sungguh, kami merindukanmu mbok.
Langganan:
Postingan (Atom)